Adopsi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) di industri finansial teknologi (fintech) Indonesia makin masif. Survei Anggota Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) 2025–2026 mencatat 84% anggotanya telah mengadopsi AI dalam operasional bisnis. Namun, meluasnya penggunaan AI ini membawa tantangan baru berupa ancaman penipuan (fraud) berbasis deepfake yang makin sulit dideteksi.
Isu krusial ini menjadi sorotan dalam Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit and Expo (FEKDI x IFSE) 2026 yang mengumpulkan pemerintah, regulator, hingga pelaku industri.
Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan OJK, Gonthor Ryantori Aziz, menekankan bahwa kunci utama pengembangan teknologi adalah kepercayaan publik melalui tata kelola yang matang.
"Inovasi baru bisa berkembang jika dipercaya masyarakat. Inovasi bukan sekadar kecanggihan teknologi, melainkan suatu terobosan yang memperoleh kepercayaan masyarakat melalui penerapan tata kelola dan mitigasi risiko yang baik,” ujar Gonthor.
Ancaman penipuan AI saat ini tergolong canggih. Founder dan Group CEO VIDA sekaligus Anggota Pengawas AFTECH, Niki Luhur, membeberkan bahwa deepfake kini tak hanya memanipulasi visual di depan kamera, tetapi juga disisipkan langsung ke aliran data saat verifikasi identitas, dikenal sebagai injection attack.
Bentuk modusnya beragam, mulai dari peniruan wajah berbasis foto KTP, swafoto, video tukar wajah (face swap), hingga rekaman verifikasi asli yang diputar ulang.
"Kita tidak bisa membangun teknologi secara reaktif. Ketika ancaman seperti deepfake berkembang semakin cepat, industri juga harus membangun teknologi yang bersifat preventif. Perlindungan konsumen harus menjadi bagian dari inovasi, bukan sesuatu yang ditambahkan belakangan," tegas Niki.
Advertisement
Penguatan Keamanan Digital
Penguatan keamanan digital ini disepakati oleh Ketua Komite 2 Sistem Pembayaran Ritel Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), Gretel Griselda. Ia menilai pengamanan harus menerapkan Fraud Intelligence dan dilakukan secara menyeluruh (user journey) untuk memetakan pola transaksi mencurigakan, termasuk melacak akun perantara (mule account).
"Pengamanan perlu dilakukan secara berlapis di sepanjang user journey, mulai dari proses verifikasi identitas dan dokumen, perangkat yang digunakan, hingga transaksi. Pendekatan menyeluruh seperti ini penting untuk menjaga keamanan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem sistem pembayaran," kata Gretel.
Merespons tantangan tersebut, VIDA memperkenalkan rangkaian solusi pengamanan digital dalam product showcase FEKDI x IFSE 2026, seperti Deepfake Shield dan ID Fraud Shield untuk menangkal penggunaan kamera virtual maupun emulator saat pendaftaran akun. Selain itu, ada pula sistem verifikasi dokumen, penandatanganan digital VIDA Sign for Enterprise, hingga fitur verifikasi tanpa kode (no-code) bernama VerifyNow.
"Dari perspektif industri fintech, inovasi yang berkelanjutan harus selalu berjalan seiring dengan perlindungan konsumen, terutama dalam menghadapi ancaman seperti deepfake. Karena itu, kita perlu terus membangun solusi preventif untuk menjaga ekonomi digital Indonesia tetap aman dan terpercaya," tutup Niki.