Sejumlah warga di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) memilih mengungsi ke desa tetangga dan sekolah setelah gempa bermagnitudo 6,1 mengguncang kawasan tersebut. Langkah ini diambil sebagai antisipasi potensi bahaya susulan.
Pusat gempa berada pada jarak 14 kilometer arah barat daya dari wilayah setempat. Guncangan dirasakan cepat dan tiba-tiba sehingga membuat warga panik dan mencari tempat yang dianggap lebih aman.
Data sementara mencatat 20 rumah rusak akibat gempa. Di tengah kondisi itu, sebagian warga bertahan di rumah, sementara sebagian lainnya berpindah untuk sementara waktu ke lokasi pengungsian mandiri.
Di Desa Pero Konda, seorang warga, Arsyad Ahmad, menyampaikan bahwa keluarganya telah lebih dulu keluar dari desa untuk mengungsi.
"Iya keluarga saya sudah duluan pergi mengungsi. Tinggal saya sendiri di sini," kata warga Pero Konda, Arsyad Ahmad, Minggu (4/10/2026).
Menurut Arsyad, keputusan mengungsi diambil untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan selama situasi masih belum stabil.
"Begitu yang kami dengar makanya kami keluar saja sementara. Saya sendiri juga lagi siap untuk ikut keluarga saya," bebernya.
Hal serupa disampaikan oleh Kepala Desa Pero Konda, Koda Sigore. Ia menyebut sebagian warganya memilih tinggal bersama keluarga di luar desa karena masih trauma dan khawatir gempa susulan.
"Iya ada beberapa yang memilih mengungsi di keluarga mereka di luar desa ini. Itu karena ada rasa trauma karena gempa yang terjadi begitu cepat dan tiba-tiba," ujarnya.
Selain kekhawatiran akan gempa susulan, kejadian kali ini juga membangkitkan ingatan warga terhadap insiden tahun 1972 ketika wilayah tersebut pernah diterpa tsunami.
"Apalagi mereka dapatkan informasi ada gempa susulan sehingga mereka memilih keluar. Selain mengungsi keluar desa, ada juga warga yang memilih tetap di rumah mereka walaupun rumah mereka rusak akibat gempa tersebut," pungkasnya.