Pameran GIIAS 2026 memajang deretan mobil yang sudah mengantongi sertifikasi keselamatan ASEAN NCAP, seperti Jetour T2, Mitsubishi Destinator, hingga Suzuki Fronx. Informasi rating bintang ini memudahkan konsumen mengukur tingkat keamanan sebelum membeli. Sebaliknya, informasi keselamatan serupa masih minim pada sektor sepeda motor.
Padahal, populasi roda dua di Indonesia sangat masif. Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) mencatat penjualan motor domestik mencapai 3.129.587 unit sepanjang Januari–Juni 2026. Di tengah pertumbuhan ini, konsumen belum dibekali acuan resmi untuk menilai tingkat keselamatan antarmodel.
Anggota Komite Teknis ASEAN NCAP, Adrianto Sugiarto, menilai konsumen tak bisa dibebani mempelajari sendiri kerumitan fitur teknis kendaraan. Patokan harga mahal pun tak menjamin kelengkapan fitur keselamatan.
"Masyarakat bisa lebih mudah menentukan kendaraan berdasarkan tingkat keselamatannya, mau memilih yang ratingnya berapa bintang," kata Adrianto.
Merespons kebutuhan tersebut, pemerintah tengah merancang Indonesian Motorcycle Assessment Program (ID-MAP) di bawah Indonesian Road Safety Rating (IDRS). Pengujian difokuskan pada standar UN Regulations, termasuk aturan pengereman UNR 78, yang difasilitasi oleh BPLJSKB Kementerian Perhubungan.
Advertisement
Fitur Keselamatan
Di sisi lain, keharusan fitur keselamatan seperti rem ABS pada motor berkapasitas mesin kecil masih memicu perdebatan karena khawatir mendongkrak harga jual. Padahal, kemampuan kendali saat pengereman darurat krusial menekan risiko fatalitas di jalan tanpa memandang besar kecilnya kapasitas mesin.
Dari sudut pandang produsen, 2W Sales & Marketing Department Head PT Suzuki Indomobil Sales, Teuku Agha, menyerahkan kewajiban teknologi keselamatan pada regulator. "Regulasi suatu teritorial ditetapkan karena ada kebutuhan di teritorial tersebut. Sebagai produsen yang beroperasi di sana, kami wajib mengikutinya," ujar Agha.
Pengembangan ID-MAP serta peninjauan RUU LLAJ menjadi momentum penting bagi pemerintah. Penerapan standar pengujian secara luas diharapkan mengubah tolok ukur pembeli motor ke depan: tidak lagi hanya melihat harga dan desain, tetapi juga tingkat keselamatan kendaraan.