Menjelang Pidato Nota Keuangan Prabowo, Ini yang Ditunggu soal BBM Subsidi 2027

Prabowo akan membacakan Nota Keuangan RAPBN 2027 di DPR, Jumat pukul 15.42 WIB. Rincian BBM subsidi jadi sorotan. Simak asumsi energi yang sudah disepakati.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Menjelang Pidato Nota Keuangan Prabowo, Ini yang Ditunggu soal BBM Subsidi 2027
Presiden Prabowo Subianto meresmikan Motor Listrik Nasional (Molinas) beserta ekosistem pendukungnya di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA), Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026).

Rincian BBM Subsidi diperkirakan menjadi salah satu sorotan dalam pidato Nota Keuangan RUU APBN 2027 yang akan disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah bersama DPR sebelumnya telah menyepakati sejumlah asumsi dasar sektor energi untuk RAPBN 2027.

Penyampaian dokumen RAPBN 2027 beserta Nota Keuangan dan dokumen pendukungnya dijadwalkan berlangsung di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026), pada pukul 15.42 WIB hingga 15.57 WIB. Agenda ini merupakan rangkaian Sidang Tahunan 2026 dan Sidang Bersama MPR, DPR, dan DPD, serta Rapat Paripurna DPR RI.

Mengutip laman resmi Kementerian ESDM, Kamis (13/8/2026), pemerintah telah menyiapkan proyeksi sektor energi 2027 untuk mengoptimalkan ketahanan energi. Kesepakatan asumsi dasar energi dengan DPR akan menjadi pijakan perumusan alokasi dan kebijakan pada RAPBN 2027, termasuk terkait BBM Subsidi.

Asumsi Energi RAPBN 2027: ICP, Lifting, Cost Recovery

Dalam Rapat Kerja dengan DPR, Kementerian ESDM bersama DPR menyepakati rentang asumsi rata-rata Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) sebesar US$ 70–US$ 95 per barel.

Lifting minyak dan gas bumi disepakati pada level 1.556–1.610 ribu Barrel Oil Equivalent per Day (BOEPD), dengan rincian lifting minyak 605–620 ribu Barrel Oil per Day (BOPD) dan lifting gas 951–990 ribu BOEPD.

Adapun kisaran cost recovery ditetapkan pada US$ 10,1–11,5 miliar.

Pada pembahasan itu, Bahlil menggarisbawahi ruang diskusi untuk penguatan produksi hulu migas.

"Untuk porsi yang ini bisa kita diskusikan, mana ruang yang lebih untuk bisa kita bicarakan dalam konteks untuk meningkatkan kapasitas lifting daripada seluruh KKKS yang ada di negara kita,"

ujar Bahlil pada Rapat Kerja di Kantor DPR RI, Selasa (16/6/2026) lalu.

Kuota BBM Subsidi, LPG 3 Kg, dan Subsidi Listrik

Hasil Rapat Kerja juga memuat asumsi dasar volume BBM bersubsidi tahun depan pada kisaran 19,343–19,561 juta kilo liter (KL).

Secara spesifik, volume minyak tanah ditetapkan 0,543–0,561 juta KL dan minyak solar 18,80–19,00 juta KL.

Untuk LPG 3 kilogram, disepakati volume 8 juta metrik ton (MT).

Selain itu, disetujui subsidi tetap untuk minyak solar (Gasoil 48) sebesar Rp 1.000 per liter. Subsidi listrik dibahas pada kisaran Rp 113,45–Rp 122,83 triliun.

Fokus Anggaran Energi 2027: Infrastruktur dan Program Pro Rakyat

Anggaran sektor energi pada 2027 difokuskan untuk mendukung agenda pembangunan yang berpihak kepada masyarakat.

Alokasinya diprioritaskan pada infrastruktur dan program strategis, antara lain listrik desa, penyediaan converter kit bagi petani, serta Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL).

Mengutip laman resmi Kementerian ESDM, pemerintah menegaskan kebijakan energi tidak hanya menjaga ketahanan pasokan nasional, tetapi juga menghadirkan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Penajaman Angka dan Dinamika Geopolitik

Soal ketepatan angka asumsi makro migas, Bahlil menyebut penetapan akan mengikuti perkembangan situasi global.

"Menyangkut dengan asumsi makro kita di sektor migas, sekali lagi saya katakan bahwa ini sama dengan apa yang disampaikan oleh Pemerintah yang dibaca oleh Bapak Presiden, sambil menunggu dinamika geopolitik nanti. Masuk bulan Juli atau Agustus baru kita bisa menempatkan angka yang agak sedikit presisi," ujarnya.

Publik kini menanti keputusan dan rincian terbaru asumsi dasar sektor energi yang akan disampaikan Presiden Prabowo dalam pidato Nota Keuangan RAPBN 2027, termasuk ihwal BBM Subsidi.

Rekomendasi