Di bawah terik matahari yang menyengat kawasan Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara, dahaga puluhan ribu penonton konser The Weeknd: After Hours Till Dawn Tour Asia menjadi ladang rezeki tersendiri bagi Iyan dan Kasni.
Pasangan suami istri pedagang Es Teh Solo ini turut memanen berkah dari riuhnya perhelatan musik internasional yang berlangsung selama dua hari tersebut. Bermodalkan gerobak sederhana dan dua jenis minuman segar, mereka berhasil melipatgandakan omzet harian di tengah lautan manusia yang memadati area stadion.
Bagi Iyan dan Kasni, keramaian konser skala besar bukan sekadar hiburan visual atau dengungan musik dari kejauhan, melainkan peluang emas untuk menyambung hidup. Jika pada hari biasa mereka hanya mengandalkan pasokan 20 liter es teh, kali ini pasutri tersebut nekat melipatgandakan stok hingga 40 liter demi melayani gelombang penonton yang tak henti-hentinya mencari pelepas dahaga.
Advertisement
Mengadu Peruntungan Sejak Terbit Matahari
Awalnya, keputusan untuk menggeser lapak ke depan JIS didasari oleh kabar burung antarterpal pedagang. Iyan dan Kasni yang sehari-hari mangkal di kawasan Bambu Kuning mendengar kabar mengenai potensi gelombang pembeli yang akan memadati stadion megah tersebut.
“Denger-denger aja dari temen pedagang sini,” tutur Kasni pada tim Merdeka.com.
Tanpa ragu, pasangan ini sudah bersiap di lokasi sejak pukul 07.00 WIB. Pagi hingga siang hari berlalu relatif senggang, namun kesabaran mereka terbayar tuntas ketika jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB. Barisan penonton yang mulai memadati pelataran JIS langsung menyerbu gerobak Es Teh Solo milik mereka.
Perubahan pola berjualan ini membuat jam kerja mereka membentang jauh lebih lama. Biasanya, dagangan Iyan dan Kasni sudah habis terpesan sekitar pukul 22.00 malam. Namun demi memanfaatkan momen langka ini, keduanya bertahan hingga pukul 23.00 WIB, menyesuaikan dengan waktu selesainya konser.
Dalam sehari pertunjukan, terdapat 150 gelas minuman segar ludes terjual. Es teh Solo yang dibanderol Rp5.000 per gelas dan es jeruk seharga Rp10.000 menjadi opsi ekonomis nan favorit bagi pengunjung yang enggan mengantri lama. Dari usaha seharian penuh itu, kantong mereka terisi omzet sekitar Rp1.125.000.
“Kalau jualan biasanya untungnya bisa buat sehari makan, kalau hari ini bisa buat dua kali makan, alhamdulillah,” kelakar Iyan disambung tawa renyah.
Advertisement
Bangkit dari Gerobak Mi Ayam yang Rusak hingga Hadiah sang Anak
Di balik kejelian mereka menangkap peluang di konser The Weeknd, usaha Es Teh Solo ini sebenarnya menyimpan cerita perjuangan yang berliku. Bisnis minuman segar yang mereka tekuni baru berjalan sekitar dua tahun.
Sebelum melakoni usaha ini, Iyan dan Kasni mengandalkan mata pencaharian dari berjualan mi ayam. Namun, roda nasib sempat berhenti berputar ketika gerobak mi ayam milik mereka mengalami kerusakan parah dan tak sanggup lagi digunakan untuk beroperasi. Pasangan ini pun sempat terpaksa menganggur dan kehilangan mata pencaharian utama selama beberapa waktu.
Titik balik hadir berkat kebaikan putra sulung mereka. Melihat orang tuanya tak lagi memiliki penghasilan, sang anak pertama menyisihkan rezeki untuk membelikan gerobak baru. Dari gerobak pemberian itulah, Iyan dan Kasni memutar otak dan beralih menjual Es Teh Solo hingga mampu bertahan hidup sampai hari ini.
Advertisement
Membaca Celah di Area Konser
Untuk bisa menggelar lapak persis di depan kawasan JIS, Iyan mengaku tak perlu mengurus izin birokrasi yang rumit. Kendati demikian, ada tenggang rasa dan kearifan lokal yang tetap harus dijaga antar sesama pekerja di area tersebut.
“Enggak ada (izin resmi), tapi ngasih orang yang jaga di sini,” aku Iyan.
Risiko dan biaya informal tersebut ia ambil lantaran melihat potensi pasar yang sangat besar. Target pembeli Iyan dan Kasni pun tak terbatas pada pemegang tiket konser yang bersiap masuk ke dalam arena, melainkan juga petugas keamanan, pengemudi ojek online, hingga warga sekitar yang sekadar lalu-lalang menikmati suasana riuh di luar stadion.
Bagi Kasni dan Iyan, dentuman bass dan lampu panggung konser bertaraf internasional mungkin tak terlihat langsung oleh mata mereka dari luar gerbang. Namun, denyut ekonomi yang dihasilkan dari helatan tersebut meresap nyata hingga ke dalam gelas es dan perasan jeruk di gerobak mereka.
Ketika ditanya mengenai harapannya untuk masa depan usaha kecil yang telah menghidupi keluarga selama dua tahun ini, Kasni memberikan jawaban lugas bernada gurauan.
“Ya semoga makin banyak aja, makin maju aja tuh konser,” ucap Kasni terkekeh.