Lautan manusia bernuansa hitam dan merah tua (marun) menyelimuti area konser Abel Tesfaye, atau yang populer dengan nama panggung The Weeknd, di Jakarta. Dentuman musik yang menggema berpadu anggun dengan barisan penonton yang tampil serba totalitas, mulai dari balutan leather jacket, hingga paduan rok dan boots.
Ribuan penggemar berkumpul dalam helatan konser After Hours Til Dawn Tour Asia yang berlangsung selama dua hari, 26 dan 27 September 2026, di Jakarta International Stadium (JIS) untuk merayakan perjumpaan yang telah mereka nantikan bertahun-tahun melalui ekspresi gaya buatan masing-masing.
Bagi para penggemar, menghadiri konser pelantun lagu Blinding Lights ini bukan sebatas menikmati dentuman musik secara langsung. Namun, ada concert look yang telah menjelma jadi bagian utuh dari ritual pertunjukan. Estetika khas branding The Weeknd yang identik dengan jaket kulit, warna merah marun, hitam legam, hingga nuansa perak diadaptasi penuh dedikasi demi menyatukan pikiran dengan sang idola.
Advertisement
8 Tahun Menunggu Bertemu The Weeknd
Salah satu sosok tampil mencuri perhatian adalah Agatha (25), penggemar asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Terbang jauh menyeberang dari pulau sebelah, Agatha sengaja hadir untuk menyaksikan pertunjukan hari pertama pada 26 September 2026 dari kategori Cat 3.
Agatha bukan penonton kemarin sore. Mengagumi karya The Weeknd sejak satu dekade lalu, dia rela menantikan momen ini meski sebelumnya sudah sempat menyaksikan aksi panggung sang idola di ajang Djakarta Warehouse Project (DWP) 2018 di Bali.
Agatha tiba di Jakarta sehari sebelum konser bersama sang adik memiliki kegemaran serupa.
"Sudah ngefans dari dulu, sekitar 10 tahunan. Memang sudah nunggu konsernya dari lama," tutur Agatha saat berbincang dengan merdeka.com di venue.
Gaya busana dikenakan Agatha sudah dirancang matang. Agatha memadukan leather jacket seharga Rp 350 ribu dengan atasan dan rok senilai Rp 500 ribu. Tak lupa, sentuhan aksesori seharga Rp 200 ribu dan boots kesayangan melengkapi penampilannya.
Meski demikian, perjalanan Agatha tidak sepenuhnya tanpa ganjalan. Dia menyoroti akses menuju lokasi pertunjukan dinilainya cukup membingungkan, terutama bagi penonton luar daerah atau mancanegara.
Agatha berharap tata kelola akses transportasi dan petunjuk arah ke venue bisa ditingkatkan pada helatan mendatang. Namun, ketidaknyamanan itu tak melunturkan antusiasmenya. Dia mengaku akan menonton konser The Weeknd lagi apabila tersedia.
“Kalau The Weeknd konser lagi di Indonesia, aku pasti bakal datang lagi,” ujar dia.
Advertisement
Berburu Outfit dari Pasar Baru hingga Thrifting
Lain cerita dengan Vica (20), warga Sungai Bambu, Jakarta Utara. Menonton seorang diri di kategori Cat 3, Vica memanfaatkan keuntungannya sebagai warga lokal Jakarta untuk mengeksplorasi gaya tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Sebagai pencinta thrifting, Vica memburu leather jacket di Pasar Baru seharga Rp 200 ribu dan memadukannya dengan boots seharga Rp 700 ribu. Atasan dikenakan merupakan hasil buruan thrift online senilai Rp 125 ribu, sementara rok melengkapi gayanya dipinjam gratis dari sang ibu.
Gaya hemat namun estetik ini tak didapat tanpa risiko. Vica mengaku terbiasa berburu pakaian lewat media sosial kerap rawan penipuan.
“Biasanya kalau thrift lewat sosial media kan sering ada penipuan. Jadi aku lihat following-nya, apakah mereka follow akun thrift lain, terus followers-nya juga banyak,” kata Vica membagikan tips kurasinya.
Awal mula keterikatan Vica dengan musik The Weeknd terbilang unik. Saat berusia 15 tahun, dia melihat idol Korea favoritnya, Evans (mantan personel boygroup ENHYPEN), membawakan ulang lagu Can't Feel My Face. Rasa penasaran membawanya menelusuri daftar musik penyanyi asal Kanada tersebut hingga akhirnya jatuh hati sepenuhnya.
Advertisement
Rela Alokasi Jutaan Rupiah demi Tampil Matching dengan Pasangan
Jika Agatha dan Vica bermain di ranah efisiensi, kerapian dan detail maksimal ditunjukkan oleh pasangan Anjar (21) dan Suci (20). Mengantongi tiket kategori Early Entry Festival, pasangan telah ngefans sejak masa SMP ini rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah.
Demi menghindari potensi kemacetan di sekitar area konser, Anjar dan Suci sengaja berangkat menggunakan kendaraan pribadi sejak siang hari. Persiapan fisik tersebut sepadan dengan investasi gaya yang mereka tampilkan.
Suci secara khusus menyewa jasa makeup artist (MUA) dan hairdo senilai Rp 2 juta. Riasan wajah tersebut dipadukan dengan leather jacket seharga Rp 1,1 juta, tank top Rp 800 ribu, rok Rp 250 ribu, serta boots Rp 400 ribu. Karena tak memiliki tas senada dengan tema, dia memboyong tas marun baru seharga Rp 1,6 juta ditambah aksesori pelengkap Rp 100 ribu.
Sentuhan paling mencolok terletak pada kuku Anjar yang dihiasi nail art custom khusus bertema The Weeknd senilai Rp 300 ribu, dirisetnya secara mendalam melalui Pinterest sebelum dieksekusi oleh nail artist langganannya.
Tak mau kalah, Anjar tampil berlaras serasi. Dia mengenakan leather jacket Rp 1,1 juta, kaus Rp 200 ribu, celana Rp 1 juta, sepatu marun Rp 1,4 juta, serta aksesori seharga Rp 300 ribu.
Pada akhirnya, gemerlap After Hours Til Dawn Tour di Jakarta bukan sekadar panggung musik berskala internasional. Di tangan para penggemarnya, mulai dari yang menyeberangi pulau, meretas pasar barang bekas, hingga merancang penampilan hingga detail terkecil, konser ini menjadi panggung perayaan identitas dan wujud apresiasi tertinggi untuk musisi idola yang mereka tunggu-tunggu.