Tumbuh besar di era digital, generasi muda (Gen Z) memandang media sosial tidak lagi sekadar platform untuk mengunggah foto pribadi. Di tangan mereka, media sosial bertransformasi menjadi sarana promosi bisnis yang efisien dan bernilai fantastis.
Gen Z terbukti sangat memahami cara menarik perhatian audiens lalu mengubah engagement tersebut menjadi peluang bisnis bernilai jutaan dolar.
Mengutip lama Business Insider, Senin (10/8), salah satu contohnya adalah Michael Satterlee, pengusaha remaja di balik produk Cruise Cup. Satterlee berhasil mempopulerkan wadah pendingin minuman kaleng hingga mencatatkan penjualan mencapai USD 300 ribu (sekitar Rp4,8 miliar) per bulan.
Menariknya, pencapaian tersebut diraih tanpa mengeluarkan biaya iklan sama sekali. Satterlee hanya mengunggah video pendek yang menampilkan dirinya sedang menikmati minuman, lalu mengisi ulang kaleng ke dalam wadah pendingin tersebut. Video sederhana yang diunggah di Instagram itu mendadak viral hingga ditonton lebih dari 50 juta kali.
Satterlee menilai kunci keberhasilan kontennya terletak pada keunikan produk serta pendekatan akun yang tidak terkesan berjualan (hard selling). Menurutnya, pemilik usaha harus pandai mengelola akun bisnis layaknya seorang influencer, yakni aktif mengikuti tren, menghibur penonton, dan membangun interaksi secara konsisten.
Advertisement
Mengubah Persepsi Usaha Lewat Konten Gaya Hidup
Pendekatan tak kalah cerdas juga diterapkan oleh Kirk dan Jacob McKinney. Melalui bisnis layanan pengangkutan barang bekas bernama Junk Teens di Massachusetts dan Rhode Island, Amerika Serikat, mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 500 ribu pengikut di berbagai platform digital.
Kirk McKinney menyadari bahwa bisnis pengangkutan barang bekas sering kali dipandang kurang menarik. Oleh karena itu, ia memanfaatkan Instagram, TikTok, dan YouTube untuk mengubah persepsi publik.
"Saya ingin menarik orang untuk bekerja di tim kami dengan menunjukkan bahwa apa yang kami lakukan itu menyenangkan. Kami bisa bekerja bersama teman-teman dan menghasilkan banyak uang," ujar Kirk.
Guna mengoptimalkan jangkauan, Junk Teens menerapkan strategi konten khusus pada setiap platform:
- Facebook: Berfokus pada penguatan komunitas lokal dan interaksi langsung dengan pelanggan daerah.
- Instagram, TikTok, dan YouTube: Berfokus pada konten gaya hidup (lifestyle) dan budaya kerja guna menarik minat generasi muda.
Keberhasilan para pebisnis muda ini membuktikan bahwa fungsi media sosial dalam dunia bisnis modern telah bergeser. Platform digital bukan lagi sebatas katalog produk, melainkan sarana utama dalam membangun reputasi dan daya tarik usaha.
Reporter Magang: Hanan Mahira Amani