Musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia ternyata membawa berkah tersendiri bagi para petani cabai di Kabupaten Lebak, Banten. Mereka berhasil meraup keuntungan signifikan karena harga pasaran cabai yang relatif baik dan tingginya permintaan pasar. Fenomena ini menjadi angin segar di tengah tantangan perubahan iklim yang kerap dihadapi sektor pertanian.
Sejumlah petani, seperti Musa (55) dan Roup (50), telah membuktikan potensi ekonomi dari budidaya cabai selama periode kering ini. Dengan strategi alih tanam dari komoditas pangan yang membutuhkan banyak air, mereka mampu menjaga produktivitas dan menghasilkan pendapatan yang menggiurkan. Keberhasilan ini menunjukkan adaptasi petani terhadap kondisi lingkungan.
Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Dodi Hermawan, mengonfirmasi bahwa banyak petani di daerah tersebut beralih ke tanaman sayuran, termasuk cabai, saat musim kemarau. Hal ini karena tanaman cabai tidak memerlukan pasokan air sebanyak tanaman pangan seperti padi, menjadikannya pilihan yang lebih realistis dan menguntungkan.
Advertisement
Advertisement
Strategi Petani Cabai Lebak di Musim Kemarau
Musa, seorang petani cabai di Blok Sangiang Tanjung, Kabupaten Lebak, telah merasakan langsung manisnya panen di musim kemarau. Ia menanam cabai rawit oranye atau yang dikenal juga sebagai cabai setan di lahan darat seluas 2.500 meter persegi. Dengan investasi awal sekitar Rp20 juta, Musa berhasil memanen cabai hingga delapan kali dan menghasilkan sekitar 1 ton.
“Kami sudah memanen delapan kali dengan menghasilkan sekitar 1 ton dan harga Rp45.000 per kilogram (kg) maka dikalkulasikan Rp45 juta,” kata Musa. Ia memperkirakan, dari total 15 kali panen yang biasa dihasilkan, keuntungannya bisa mencapai Rp60 juta.
Musa menjelaskan bahwa usaha pertanian cabai ini menjadi alternatif utama menyusul tibanya musim kemarau panjang. Pilihan ini diambil karena di wilayahnya tidak memiliki sumber air yang cukup untuk pertanian padi pangan. “Kami sudah biasa jika musim kemarau panjang beralih ke pertanian cabai dibandingkan pertanian padi pangan yang membutuhkan banyak pasokan air,” jelasnya.
Advertisement
Advertisement
Potensi Keuntungan dari Cabai Merah Keriting
Tidak hanya Musa, Roup (50), petani cabai lainnya, juga meraih pendapatan menjanjikan dari budidaya cabai merah keriting. Ia mengembangkan cabai di lahan seluas 1.500 meter persegi dan telah melakukan panen sebanyak dua kali, menghasilkan 150 kilogram.
Dengan harga tampung cabai merah keriting sebesar Rp50.000 per kg, Roup telah mengantongi pendapatan awal sebesar Rp7,5 juta. Cabai merah keriting yang berasal dari Jawa Tengah ini dapat dipanen hingga 10 kali dalam usia 85 hingga 120 hari setelah tanam.
Roup memperkirakan bahwa total pendapatan ekonomi dari hasil panen cabainya bisa mencapai Rp50 juta, dengan biaya produksi sekitar Rp20 juta. Angka ini menunjukkan potensi keuntungan yang besar bagi petani yang jeli melihat peluang di musim kemarau.
Advertisement
Advertisement
Dukungan dan Dampak Ekonomi Lokal
Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Dodi Hermawan, membenarkan tren alih tanam ini. Ia menyatakan bahwa saat musim kemarau, sebagian besar petani di Lebak beralih dari tanaman pangan ke tanaman sayuran, termasuk cabai, karena kebutuhan air yang lebih sedikit.
Fenomena ini tidak hanya menguntungkan petani secara individu, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. “Di musim kemarau para petani memasok sayuran dan cabai hingga puluhan ton ke sejumlah pasar tradisional di Banten dan DKI Jakarta dengan perputaran uang hingga ratusan juta per hari,” papar Dodi. Hal ini menunjukkan kontribusi signifikan sektor pertanian Lebak dalam memenuhi kebutuhan pasar regional.
Sumber: AntaraNews
Advertisement