Sudah Bakar Ribuan Triliun, Industri AI Dituntut Cari Pendapatan Baru

Industri AI diperkirakan harus menghasilkan pendapatan US$6 triliun per tahun pada 2031 untuk menopang investasi besar-besaran dalam pembangunan pusat data dan infrastrukturnya.

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi - Reporter
Sudah Bakar Ribuan Triliun, Industri AI Dituntut Cari Pendapatan Baru
<p>Ilustrasi Artificial Intelligence. (Dok. tungnguyen0905/Pixabay)</p>

Industri kecerdasan buatan (AI) menghadapi ujian besar dalam lima tahun ke depan. Di tengah investasi jumbo untuk membangun pusat data dan infrastruktur AI, industri ini diperkirakan harus mampu menghasilkan pendapatan USD 6 triliun per tahun pada 2031 agar investasi tersebut dapat terbayarkan.

Mengutip Yahoo Finance, Rabu (30/9), proyeksi tersebut berasal dari laporan perusahaan konsultan Bain & Co. Namun, target tersebut masih jauh dari pendapatan yang diperkirakan dapat dihasilkan layanan AI saat ini. Bain memperkirakan layanan AI yang sudah tersedia hanya akan menghasilkan sekitar USS 1,8 triliun.

Dengan demikian, industri AI masih perlu menciptakan sekitar USD 4,2 triliun pendapatan tambahan dalam lima tahun mendatang.

Investasi AI Makin Membengkak

Kebutuhan pendapatan tersebut muncul ketika perusahaan teknologi justru tengah meningkatkan investasi secara besar-besaran.

Raksasa teknologi seperti Microsoft, Google, Amazon, Meta hingga Oracle terus menggelontorkan dana untuk membangun pusat data dan menambah kapasitas komputasi yang dibutuhkan untuk menjalankan teknologi AI.

Bain memperkirakan investasi pembangunan pusat data secara global dapat mencapai USD 5 triliun hingga USD 6,5 triliun sampai 2030. Investasi tersebut diperkirakan mampu menambah sedikitnya 150 gigawatt kapasitas pusat data di berbagai negara.

Tak hanya fasilitasnya, kebutuhan terhadap chip, memori dan perangkat jaringan juga ikut meningkat. Kondisi tersebut turut membuat biaya pembangunan dan pengoperasian infrastruktur AI semakin mahal.

Tak Cukup Andalkan Produktivitas

Besarnya investasi membuat industri AI membutuhkan sumber pendapatan baru. Peningkatan produktivitas pekerja akibat penggunaan AI dinilai belum cukup untuk menghasilkan nilai ekonomi yang diperlukan.

Bain memperkirakan pertumbuhan AI perlu merambah berbagai bidang baru, mulai dari robotika, mesin otonom, penemuan obat, layanan kesehatan mental hingga pembangkitan energi.

David Crawford, Chairman Bain Global Technology, Media and Telecommunications sekaligus penulis utama laporan tersebut, menyebut perkembangan infrastruktur AI saat ini berlangsung sangat cepat.

Menurutnya, industri AI membutuhkan gelombang inovasi dengan skala yang jauh lebih besar dibandingkan perkembangan teknologi mobile dan cloud sebelumnya.

Pusat Data Hadapi Persoalan Energi

Ekspansi AI juga membawa tantangan pada infrastruktur fisik. Pembangunan pusat data membutuhkan pasokan listrik, air, transformator serta berbagai komponen lainnya dalam jumlah besar.

Di Amerika Serikat, misalnya, proyek pusat data senilai sekitar US$68 miliar tercatat telah diblokir atau mengalami penundaan pada kuartal yang berakhir Juni.

Sementara itu, pengeluaran tahunan untuk infrastruktur AI, termasuk pusat data, kapasitas komputasi, chip akselerator dan memori, diperkirakan dapat mencapai US$1,5 triliun pada 2031.

Besarnya angka investasi tersebut membuat industri AI menghadapi pertanyaan besar: apakah teknologi ini mampu menciptakan pendapatan baru dalam skala yang cukup untuk menopang biaya infrastrukturnya?

Bagi industri AI, pertarungan dalam beberapa tahun ke depan bukan hanya soal siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut menghasilkan nilai ekonomi hingga triliunan dolar.

Rekomendasi