Kehidupan yang diimpikan banyak orang tak selalu membawa kebahagiaan bagi yang menjalaninya. Hal ini dirasakan oleh Hali Mo, seorang lulusan Stanford University dengan karier yang cemerlang. Ia sempat bekerja di McKinsey, salah satu perusahaan konsultan bisnis terkemuka di dunia, sebelum melanjutkan kariernya sebagai product manager di sebuah perusahaan startup.
Kendati memiliki gaji besar, posisi strategis, dan prospek masa depan yang cerah, Hali justru merasa tidak bahagia.
"Setiap pagi saya bangun dengan perasaan takut dan cemas membayangkan pekerjaan hari itu," ujar Hali seperti dikutip dari Business Insier, Jumat (7/8).
Memasuki usia 29 tahun, Hali mengambil keputusan berani. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya tanpa memiliki rencana matang, semata-mata untuk mencari tahu tujuan hidup yang sebenarnya.
Hali kemudian terbang ke Paris untuk belajar di sekolah pastry. Momen mengolah adonan roti tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Kegemarannya membagikan aktivitas belajar membuat roti di media sosial mendadak viral dan mendapat respons hangat dari warganet.
Melihat peluang tersebut, Hali memberanikan diri mendirikan usaha roti bernama Hali Home Bakes. Namun, perjalanan usahanya tidak berjalan mulus. Saat pertama kali membuka sistem pemesanan menggunakan oven kecil di rumahnya di New York, ia hanya berhasil menjual 40 buah pastry. Selama berbulan-bulan, ia bahkan kesulitan untuk menjual belasan kotak roti.
Tantangan hidup Hali kian bertambah ketika hubungan asmaranya yang telah berjalan selama delapan tahun harus berakhir. Hali lantas menata ulang hidupnya dan pindah ke San Francisco untuk merintis usahanya kembali dari nol.
Advertisement
Konsistensi dan Kerja Keras
Konsistensi dan kerja keras Hali akhirnya membuahkan hasil. Olahan roti buatannya yang renyah makin diminati. Berkat promosi dari mulut ke mulut serta media sosial, basis pelanggannya terus bertambah. Usaha yang berawal dari dapur rumah tangga tersebut kini mampu memproduksi sekitar 400 pastry setiap minggu dan terus berkembang.
Hali tidak menampik bahwa menjadi seorang pengusaha memberikan tantangan tersendiri. Ia tak lagi menerima gaji tetap, tidak memiliki fasilitas cuti berbayar, dan harus menanggung biaya asuransi secara mandiri. Namun, seluruh tantangan tersebut terbayar oleh kebebasan dan kepuasan yang ia rasakan setiap hari.
"Saya tak bilang semua orang harus keluar dari pekerjaan kantor mereka," ucap Hali.
"Tapi jika pekerjaanmu memang membuatmu menderita dan kamu punya tabungan yang cukup, jangan takut mengambil langkah baru. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan rasa cemas setiap kali bangun pagi."
Kini, Hali tak lagi menyambut pagi dengan rasa takut, melainkan dengan kebahagiaan dan aroma harum roti yang siap dipanggang.
Reporter Magang: Hanan Mahira Amani