Dua kali kehilangan pekerjaan dalam kurun waktu tiga bulan dan terancam deportasi menjadi ujian terberat bagi Tanvi Pisal. Mengejar karier di pusat teknologi dunia yang serba penuh ketidakpastian sempat menjadi babak paling menegangkan dalam hidupnya.
Lulusan teknik perangkat lunak asal India ini memulai kariernya di bidang user interface dan user experience (UI/UX). Pada 2019, melihat industri desain di negaranya masih belum berkembang pesat, Pisal membidik peluang di Silicon Valley, Amerika Serikat. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister jurusan Human-Computer Interaction di San Jose State University, California, pada 2021.
Setelah lulus, kariernya sempat berjalan mulus. Ia diterima bekerja di sebuah startup teknologi kesehatan di Bay Area menggunakan visa STEM OPT, sembari berjuang mendapatkan visa kerja H-1B. Namun, gelombang kecerdasan buatan (AI) mulai mengguncang industri teknologi.
"Saya melihat langsung bagaimana AI merombak perusahaan Software as a Service (SaaS)," ungkap Pisal dikutip dari Business Insider, Jumat (7/8).
Menyadari ancaman tersebut, ia mulai berburu pekerjaan baru sejak pertengahan 2025. Dugaan Pisal terbukti benar; ia terkena PHK pada Oktober di tahun yang sama.
Pisal langsung merespons dengan mengirimkan ratusan lamaran hingga akhirnya diterima sebagai desainer produk di New York City. Tanpa dana relokasi dari perusahaan, ia menjual perabotannya, menyewakan kamar lamanya, dan pindah ke Pantai Timur. Di sana, ia menyewa kamar seharga USD 1.800 per bulan di New Jersey dan menempuh perjalanan pulang-pergi satu jam untuk menjalani 12 jam kerja setiap hari.
Nahas, baru dua minggu bekerja, perusahaan memecatnya tanpa alasan yang jelas. "Saya baru pindah ke New York 15 hari sebelumnya. Saya tidak bisa memahami mengapa mereka meminta saya pindah sejauh itu hanya untuk memecat saya," kenangnya.
Advertisement
Ancaman Deportasi
Bagi seorang pekerja imigran, PHK berarti ancaman deportasi. Krisis ganda dalam waktu singkat tersebut menguras tabungannya hingga USD 6.000 (sekitar Rp95 juta). Tepat pada Hari Natal, 25 Desember, Pisal terbang kembali ke California. Ia hanya memiliki batas waktu 60 hari untuk menemukan pekerjaan baru sebelum izin tinggalnya habis.
Di tengah situasi kritis, Pisal melakukan manuver terakhir. Ia mengalokasikan minimal tiga jam setiap hari untuk melamar pekerjaan secara spesifik serta membangun proyek desain berbasis AI demi memperkuat portofolionya.
Strategi tersebut berhasil. Pada awal Januari, panggilan wawancara mulai berdatangan. Puncaknya, salah satu perusahaan Big Tech di Silicon Valley menawarkan posisi kontrak sebagai desainer UX.
Kini, Pisal telah kembali menetap di San José dan menikmati peran barunya. Untuk mengamankan izin tinggalnya dari ketidakpastian regulasi imigrasi, ia juga melanjutkan pendidikan S3 (Ph.D.) Administrasi Bisnis di Westcliff University.
Meski kondisi finansialnya telah pulih, dampak psikologis dari peristiwa tersebut belum sepenuhnya hilang. Pisal mengaku masih kerap merasa cemas setiap kali menerima email atau undangan rapat mendadak dari perusahaan. Kendati demikian, ia tidak menyesali keputusannya merantau dan kini berfokus memulihkan trauma sembari menata masa depannya.
Reporter Magang: Hanan Mahira Amani