Jual Minyak Venezuela, Donald Trump Kantongi Rp235 Triliun

Trump menyebut penerimaan dari minyak Venezuela lebih besar dari estimasi. Amerika Serikat juga mengungkap audit dan penyaluran dananya.

Cahya Alena Fauza
Oleh Cahya Alena Fauza - Reporter
Jual Minyak Venezuela, Donald Trump Kantongi Rp235 Triliun
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 3 Maret 2026.(Dok. AP/Mark Schiefelbein)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi perkiraan nilai pemasukan dari penjualan minyak mentah Venezuela saat berada di pesawat Air Force One menuju Michigan, Senin (27/7/2026). Ia menyebut angka yang diterima pemerintahnya melampaui estimasi yang beredar. "US$ 13 miliar dari Venezuela? Saya rasa lebih dari itu," kata Trump.

Menurut CNBC, Selasa (28/7), Nicolás Maduro ditangkap oleh Amerika Serikat dalam operasi militer pada 3 Januari 2026. Imbasnya, ekspor minyak Venezuela sepenuhnya berada di bawah kendali Amerika Serikat.

Sebelumnya, Trump menyatakan Amerika Serikat telah menerima US$ 13 miliar, setara Rp235,1 triliun dengan asumsi kurs 18.087 per USD, dari penjualan minyak mentah milik Venezuela. "Kami sudah berkali-kali menanggung biaya perang itu," ia menambahkan.

Kontrol Ekspor dan Tuntutan Transparansi di Kongres AS

Setelah menggulingkan Maduro, Amerika Serikat membiarkan pemerintahan Venezuela tetap berjalan. Washington selama ini bekerja sama dengan Presiden Sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden.

Di Kongres, Partai Demokrat mendesak pemerintah untuk memaparkan berapa banyak uang yang dihasilkan, bagaimana distribusinya, serta seperti apa pengawasannya. Dorongan ini muncul seiring kendali Amerika Serikat atas arus ekspor minyak negara tersebut.

Trump menyebut pemasukan dari penjualan minyak Venezuela dipakai untuk mengelola negara itu, seraya menegaskan penerimaan yang masuk bernilai miliaran dolar AS.

150 Juta Barel Terjual, Dana Diaudit KPMG dan Disimpan di Citibank

Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, dalam wawancara dengan Semafor pada April lalu menyatakan Amerika Serikat telah menjual 150 juta barel minyak Venezuela sejak Januari.

Adapun Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, memaparkan kepada Kongres pada Juni lalu bahwa rangkaian penjualan tersebut diaudit oleh KPMG, salah satu firma akuntansi terbesar. Rubio juga menyebut dana hasil penjualan disimpan di akun bank Citibank.

"Auditnya terus berjalan, jadi bukan audit tahunan, namun setiap pengeluaran, setiap pencairan dana diaudit oleh KPMG," kata Rubio kepada Kongres Juni lalu.

Rp 54,2 Triliun Dicairkan, Pembayaran Gaji Hingga Peralatan Migas

Trump menegaskan bahwa uang hasil penjualan dipakai untuk pengelolaan di Venezuela. "Kami menerima banyak sekali uang, miliaran dolar AS dari Venezuela," ujar Trump.

Pada Februari, Wright menyatakan pemerintahan Trump telah menyetor US$ 500 juta, sekitar Rp 9 triliun, ke sebuah akun bank di Qatar yang dikontrol oleh pemerintah Amerika Serikat. Ia menambahkan, Amerika Serikat kemudian membuat akun kas negara dan berhenti mengirim uang ke akun Qatar tersebut.

Pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Michael Kozak, mengatakan kepada Kongres pada April lalu bahwa US$ 3 miliar, sekitar Rp 54,2 triliun, telah dicairkan dari akun tersebut. Dana itu digunakan untuk membayar gaji karyawan pemerintahan Venezuela, membeli perlengkapan industri minyak Venezuela, serta penggunaan lain yang telah disetujui.

Rubio menyatakan pencairan tersebut didasarkan pada perintah eksekutif yang dikeluarkan Trump pada 9 Januari 2026. Perintah itu menegaskan uang berstatus milik pemerintahan Venezuela yang ditahan dan diamankan oleh Amerika Serikat.

Rekomendasi