Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjadikan provinsi ini sebagai produsen gula terbesar sekaligus salah satu lumbung padi nasional. Pernyataan ini disampaikan Khofifah di Kota Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (18/7), menyoroti potensi besar wilayahnya.
Langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas sektor pertanian. Dengan modal kuat yang dimiliki, Jawa Timur optimistis mampu berkontribusi signifikan bagi kedaulatan pangan Indonesia.
Fokus utama adalah pada peningkatan produksi gula kristal putih dan gabah kering giling. Program pengembangan tebu dan perluasan lahan padi menjadi prioritas untuk mencapai target ambisius tersebut.
Advertisement
Advertisement
Kontribusi Jawa Timur pada Produksi Gula Nasional
Jawa Timur telah membuktikan diri sebagai kontributor utama dalam produksi gula nasional, menyumbang sekitar 51 persen dari total produksi. Angka ini menunjukkan peran vital provinsi tersebut dalam memenuhi kebutuhan gula di Indonesia.
Pada tahun 2025, Jawa Timur menargetkan produksi gula kristal putih mencapai 1,34 juta ton, sebuah target yang ambisius namun realistis. Untuk mendukung capaian ini, berbagai program telah dicanangkan.
Program bongkar ratoon seluas 48.315 hektare dan perluasan areal tebu seluas 6.582 hektare akan dilaksanakan pada tahun 2026. Total pengembangan tebu mencapai 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.
Advertisement
Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan volume produksi gula secara signifikan. Kolaborasi Jatim Gula Nasional diharapkan terus meningkat.
Advertisement
Jawa Timur, Lumbung Padi Nasional yang Terus Bertumbuh
Selain gula, Jawa Timur juga memperkokoh posisinya sebagai salah satu lumbung padi nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan signifikan pada luas panen komoditas ini.
Pada tahun 2025, luas panen padi di Jawa Timur diperkirakan mencapai sekitar 1,84 juta hektare, meningkat 13,88 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan keberhasilan upaya peningkatan produksi.
Hasil produksi padi pada periode yang sama diperkirakan mencapai 10,44 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat 12,60 persen dari tahun 2024. Jumlah ini setara dengan sekitar 6,03 juta ton beras untuk konsumsi penduduk pada tahun 2026.
Advertisement
Capaian ini semakin memperkuat peran Jawa Timur dalam menjaga stabilitas pasokan beras nasional. Peran Jatim Lumbung Padi Nasional sangat krusial.
Advertisement
Komitmen untuk Kedaulatan Pangan Berkelanjutan
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa capaian produksi yang ada tidak akan menghentikan langkah pemerintah provinsi untuk terus memperkuat produktivitas sektor pangan. Kolaborasi Jatim Gula Padi Nasional akan semakin diintensifkan.
Inovasi terus didorong untuk meningkatkan kontribusi Jawa Timur terhadap ketahanan pangan nasional, khususnya dalam percepatan swasembada gula. Pemerintah provinsi berkomitmen penuh mendukung program strategis pemerintah pusat.
Dukungan ini khususnya menyangkut penguatan ketahanan pangan nasional secara menyeluruh, memastikan setiap warga negara memiliki akses terhadap pangan yang cukup dan bergizi. Khofifah optimistis bahwa dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, petani, dan industri, ketahanan pangan nasional akan semakin kokoh. Indonesia mampu mewujudkan kedaulatan pangan yang berkelanjutan dengan dukungan penuh dari Jawa Timur, yang terus berinovasi dan beradaptasi dengan tantangan global. Kolaborasi menjadi kunci utama dalam mencapai visi ini, menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi sektor pertanian dan seluruh masyarakat.
Advertisement
Sumber: AntaraNews