Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satya Hangga Yudha Widya Putra, menegaskan bahwa percepatan pengembangan Blok Masela merupakan langkah vital untuk melindungi kedaulatan ekonomi Indonesia. Hal ini disampaikan dalam agenda Silahturahmi Pengabdian Mata Garuda di Jakarta, Jumat (10/4/2026), di tengah dinamika geopolitik global yang semakin memanas. Proyek strategis nasional ini diharapkan menjadi benteng pertahanan ekonomi di tengah ketidakpastian internasional.
Dinamika internasional yang memanas, seperti konflik di Timur Tengah yang menutup jalur perdagangan Selat Hormuz, telah memicu fluktuasi harga migas yang mengkhawatirkan. Kondisi ini memberikan tekanan berat pada neraca perdagangan Indonesia, meskipun sumber impor telah didiversifikasi. Hangga mengungkapkan bahwa saat harga minyak menyentuh 110 dolar AS per barel, ketergantungan pada impor menjadi sangat terasa.
Setelah penantian panjang lebih dari seperempat abad, Lapangan Abadi di Blok Masela, Maluku, kini memasuki babak baru yang menentukan. Momentum penting ini ditandai dengan dimulainya pembangunan fisik pada Februari lalu, menandakan pergeseran dari wacana administratif menjadi aksi nyata di lapangan. Proyek ini diharapkan dapat menyuplai energi secara masif dan stabil bagi kebutuhan domestik.
Advertisement
Advertisement
Urgensi Percepatan Pengembangan Blok Masela semakin terasa saat mencermati dinamika internasional yang kian memanas. Krisis geopolitik global menuntut Indonesia untuk memperkuat ketahanan energinya sendiri. Ketergantungan pada pasokan energi dari luar negeri dapat menjadi kerentanan serius bagi stabilitas ekonomi nasional.
Konflik di Timur Tengah, yang menyebabkan penutupan jalur perdagangan vital seperti Selat Hormuz, secara langsung memengaruhi stabilitas harga minyak dan gas dunia. Fluktuasi harga migas yang tajam dapat membebani anggaran negara dan menekan neraca perdagangan. Hangga menjelaskan, "Saat harga minyak menyentuh 110 dolar AS per barel, ketergantungan pada impor meskipun sumbernya telah didiversifikasi ke Amerika Serikat, Afrika, hingga Australia, tetap memberikan tekanan berat pada neraca perdagangan."
Dalam konteks inilah, Percepatan Pengembangan Blok Masela hadir sebagai solusi strategis untuk memperkuat pasokan energi domestik. Proyek ini akan menyuplai energi secara masif dan stabil, mengurangi ketergantungan impor, serta melindungi ekonomi nasional dari gejolak harga migas global. Blok Masela menjadi pilar penting dalam menjaga kedaulatan energi Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Secara komersial, proyek Percepatan Pengembangan Blok Masela menunjukkan kemajuan signifikan dengan ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) antara Inpex dan PT Pertamina (Persero). Penandatanganan ini dilakukan pada 30 Maret 2026, menandai langkah konkret menuju realisasi proyek. Kolaborasi ini menjadi fondasi penting bagi kelanjutan pengembangan lapangan gas Abadi.
Saat ini, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) tengah mengawal negosiasi intensif pembelian Liquefied Natural Gas (LNG). Negosiasi ini merupakan syarat mutlak bagi perusahaan untuk mencapai Final Investment Decision (FID), yang akan membuka jalan bagi investasi penuh dalam proyek tersebut. Proses ini krusial untuk memastikan kelayakan ekonomi dan keberlanjutan proyek.
Percepatan Pengembangan Blok Masela memiliki potensi produksi yang sangat besar, mencapai 9,5 MTPA LNG, 150 MMSCFD gas pipa, dan 35.000 barel minyak kondensat. Pemerintah telah menetapkan skema alokasi berimbang, yaitu 60 persen untuk pasar ekspor guna menjamin keekonomian proyek, dan 40 persen tetap dialokasikan untuk kebutuhan domestik (DMO). Alokasi ini menunjukkan komitmen untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri sekaligus memastikan profitabilitas proyek.
Advertisement
Advertisement
Selain sebagai sumber energi nasional, Percepatan Pengembangan Blok Masela juga diharapkan membawa manfaat besar bagi kemajuan masyarakat Maluku. Pemerintah berkomitmen memastikan proyek ini memberikan dampak berganda (multiplier effect) yang nyata bagi daerah setempat. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan yang inklusif dan merata di seluruh wilayah Indonesia.
Wujud komitmen tersebut di antaranya adalah pemberian hak kelola participating interest (PI) sebesar 10 persen bagi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) setempat. Selain itu, proyek ini akan menciptakan lapangan kerja secara masif bagi penduduk lokal, serta menyelenggarakan program transfer pengetahuan dan teknologi. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan ekonomi regional.
Hangga menyebut, "Dengan pengawalan ketat lintas kementerian dan koordinasi bersama pemerintah daerah, Blok Masela diharapkan tidak hanya menjadi sumber energi bagi nasional, tetapi juga menjadi motor penggerak peradaban ekonomi baru yang lebih sejahtera bagi masyarakat di garda terdepan timur Indonesia." Percepatan Pengembangan Blok Masela diharapkan menjadi katalisator pembangunan berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.
Advertisement
Sumber: AntaraNews