Jakarta, 03/4 – PTPN IV PalmCo, sub holding PTPN III (Persero), telah diakui oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai perusahaan paling aktif dalam pendampingan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di seluruh Indonesia. Pengakuan ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Divisi Penyaluran Dana Sektor Hulu BPDP, Dwi Nuswantara, pada Jumat (03/4) di Jakarta.
Capaian signifikan PalmCo ini mencerminkan pergeseran pendekatan dalam pelaksanaan PSR, yang kini tidak hanya berfokus pada aspek pembiayaan semata. Namun, program ini juga menekankan penguatan aspek teknis di lapangan, memastikan kualitas pelaksanaan sejak tahap penanaman ulang hingga pengelolaan kebun.
Dwi Nuswantara menjelaskan bahwa PTPN IV PalmCo mencatat luasan pendampingan terbesar dibandingkan perusahaan lain, menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung keberlanjutan industri sawit nasional. Peran korporasi dinilai semakin krusial di tengah dorongan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas kebun rakyat.
Advertisement
Advertisement
PTPN IV PalmCo berhasil menempati peringkat pertama dalam pendampingan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dengan luasan mencapai 6.672 hektare. Angka ini jauh melampaui perusahaan lain yang terlibat dalam program serupa. Sebagai perbandingan, Sinar Mas menyusul dengan luasan 4.426 hektare, dan Asian Agri dengan 3.204 hektare.
Dwi Nuswantara menegaskan bahwa capaian ini merupakan bukti nyata dari efektivitas model kemitraan yang diterapkan PalmCo. Pendekatan ini tidak hanya memastikan dana program tersalurkan dengan tepat sasaran, tetapi juga menjaga kualitas budidaya sawit.
Keterlibatan aktif PTPN IV PalmCo sebagai sub holding PTPN III (Persero) dalam PSR merupakan bagian dari mandatnya sebagai badan usaha milik negara (BUMN). Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyatakan bahwa keberlanjutan industri sawit nasional sangat bergantung pada peningkatan kapasitas kebun rakyat.
Advertisement
Sebagai BUMN, PalmCo tidak hanya berorientasi pada kinerja korporasi, tetapi juga berperan sebagai agen pembangunan yang berkomitmen untuk tumbuh bersama petani.
Advertisement
Program PSR, yang telah berjalan sejak tahun 2017 dengan dukungan dana BPDP, mengalokasikan sekitar Rp3 triliun setiap tahun untuk peremajaan sekitar 100.000 hektare kebun sawit rakyat. Namun, serapan program ini kerap menghadapi berbagai tantangan, termasuk kesiapan petani dan aspek teknis budidaya.
Dalam konteks inilah, kehadiran korporasi seperti PTPN IV PalmCo menjadi sangat strategis. Pendampingan yang diberikan tidak hanya mencakup aspek finansial, tetapi juga transfer teknologi dan praktik budidaya yang baik kepada petani.
Melalui skema kemitraan, petani tidak hanya memperoleh bantuan dana, tetapi juga akses terhadap bibit unggul bersertifikat, pendampingan teknis yang berkelanjutan, hingga kepastian pasar untuk hasil panen mereka.
Advertisement
Model pendampingan ini diharapkan mampu mengatasi persoalan klasik produktivitas kebun rakyat yang selama ini masih tertinggal dibandingkan kebun perusahaan. Dengan praktik agronomi yang lebih baik dan dukungan ekosistem yang terintegrasi, hasil panen petani diharapkan dapat meningkat secara signifikan.
Advertisement
Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian, terus mendorong pola kemitraan ini agar perusahaan dapat berperan aktif dalam mentransfer teknologi dan praktik budidaya yang baik kepada petani. Tujuan utamanya adalah untuk mempercepat capaian target PSR sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan petani sawit secara berkelanjutan.
Ke depan, diharapkan pola kemitraan yang telah terbukti efektif ini dapat diperluas dengan melibatkan lebih banyak perusahaan. Replikasi model yang telah berjalan dinilai penting untuk mencapai target PSR secara nasional.
Upaya percepatan program PSR melalui skema kemitraan menunjukkan perkembangan signifikan. Ini adalah langkah krusial dalam meningkatkan produktivitas kebun rakyat dan memastikan keberlanjutan industri sawit Indonesia.
Advertisement
Sumber: AntaraNews