Perusahaan manajer investasi Allianz Global Investors (AllianzGI) Indonesia menyatakan bahwa pasar obligasi domestik tetap menarik di tengah ketidakpastian global yang berkelanjutan. Penilaian ini didasarkan pada dukungan likuiditas domestik yang solid serta permintaan kuat dari investor institusi lokal. Kondisi ini krusial dalam membantu menyerap pasokan obligasi baru sekaligus meredam volatilitas pasar secara efektif.
Akuntino Mandhany, Fixed Income Portfolio Manager AllianzGI Indonesia, menjelaskan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah telah bergerak menjauh dari level yang sebelumnya relatif mahal. Hal ini meningkatkan daya tarik carry dan roll-down, khususnya di pasar yang cenderung bergerak dalam kisaran terbatas, bukan berbasis tren. Arah kebijakan domestik Indonesia juga mendukung pertumbuhan ekonomi dengan fokus pada stabilitas.
Otoritas fiskal dan moneter di Indonesia berfokus menjaga momentum serta stabilitas ekonomi, menurut Akuntino. Meskipun demikian, pasar tetap sensitif terhadap faktor eksternal seperti dinamika nilai tukar, sentimen risiko global, serta persepsi terhadap disiplin fiskal dan kredibilitas kebijakan. Oleh karena itu, pendekatan pendapatan tetap yang selektif dan disiplin sangat diperlukan untuk menghadapi periode volatilitas.
Advertisement
Advertisement
Daya Tarik Pasar Obligasi Domestik
Pasar obligasi domestik Indonesia menunjukkan ketahanan yang signifikan, didukung oleh likuiditas yang memadai dan minat kuat dari investor institusi lokal. Faktor-faktor ini berperan penting dalam menjaga stabilitas pasar dan efektivitas penyerapan obligasi baru. AllianzGI menggarisbawahi bahwa imbal hasil obligasi pemerintah kini lebih atraktif, menawarkan potensi keuntungan yang menarik.
Imbal hasil yang lebih menarik ini meningkatkan potensi keuntungan dari strategi carry dan roll-down, terutama dalam situasi pasar yang bergerak dalam rentang terbatas. Kebijakan domestik yang pro-pertumbuhan ekonomi juga menjadi fondasi penting bagi daya tarik pasar obligasi RI. Otoritas fiskal dan moneter bekerja sinergis menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Namun, Akuntino Mandhany mengingatkan bahwa pasar obligasi domestik tidak sepenuhnya imun terhadap pengaruh eksternal. Faktor-faktor seperti fluktuasi nilai tukar, sentimen risiko global, dan persepsi terhadap disiplin fiskal dapat memengaruhi pergerakan pasar. Oleh karena itu, strategi investasi yang hati-hati dan fleksibel sangat dibutuhkan untuk mengelola risiko.
Advertisement
Advertisement
Dinamika Global dan Strategi Investasi AllianzGI
AllianzGI mengamati bahwa investor global memasuki tahun 2026 dengan volume penerbitan obligasi baru yang tinggi dan arus informasi yang sangat padat. Kebijakan bank sentral utama, termasuk Federal Reserve AS, Bank of Japan, dan Bank of Canada, cenderung bergerak sesuai ekspektasi pasar. Ini menciptakan lingkungan yang menantang namun juga penuh peluang bagi investor.
Tim Chief Investment Officer (CIO) AllianzGI, dalam laporan Insights Fixed Income Forward: February 2026, memprediksi skenario makro pada tahun 2026 akan semakin menyempit. Skenario dasar cenderung menuju lingkungan reflasi dengan kondisi keuangan yang tetap akomodatif. Dalam kondisi seperti ini, strategi investasi berbasis "carry" masih dianggap relevan untuk mencari keuntungan.
Strategi "carry" bertujuan menghasilkan keuntungan dari selisih imbal hasil obligasi selama periode kepemilikan. AllianzGI juga menyoroti bahwa risiko arus repatriasi dana Jepang dan memburuknya keseimbangan fiskal di negara-negara OECD belum sepenuhnya tercermin di pasar. Oleh karena itu, strategi yield curve steepener dinilai lebih menarik dalam kondisi pasar saat ini.
Advertisement
Advertisement
Prospek Pasar Kredit dan Obligasi Negara Berkembang
Untuk pasar kredit global, AllianzGI melihat lingkungan yang mendukung strategi kredit "carry" karena imbal hasil nominal yang menarik dan fundamental korporasi yang relatif solid. Kombinasi obligasi berperingkat BBB dan BB dianggap sebagai titik optimal yang menyeimbangkan potensi pendapatan dengan pengelolaan risiko secara efektif.
Selain itu, obligasi pasar negara berkembang tetap memiliki peran penting sebagai diversifikator portofolio, terutama dalam lingkungan "carry" dengan dolar AS yang cenderung melemah secara struktural. Namun, AllianzGI menekankan bahwa pendekatan investasi harus semakin selektif untuk memaksimalkan peluang dan meminimalkan risiko di pasar ini.
Bank Indonesia (BI) juga aktif melakukan stabilisasi di pasar keuangan, termasuk di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa setelah arus modal keluar (outflow) sepanjang 2025, dana asing mulai kembali masuk. Hingga 6 Februari 2026, tercatat inflow sebesar Rp15,44 triliun, terutama ke pasar SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Advertisement
Sumber: AntaraNews