Peluncuran ETF Emas di BEI, Airlangga: Ini Dampaknya ke Likuiditas dan Asuransi

Airlangga menilai ETF emas akan memperdalam pasar. Ia menyinggung dampak ke likuiditas, peluang asuransi, serta EGR dan aturannya.

Immanuel Christian
Oleh Immanuel Christian - Reporter
Peluncuran ETF Emas di BEI, Airlangga: Ini Dampaknya ke Likuiditas dan Asuransi
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Peluncuran exchange traded fund (ETF) emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai menjadi langkah strategis untuk memperdalam sektor keuangan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut instrumen ini tak sekadar menambah pilihan investasi, tetapi berpotensi meningkatkan likuiditas pasar emas nasional. Pernyataan itu ia sampaikan pada peluncuran di BEI, Senin (10/8/2026).

Airlangga menekankan pentingnya keterhubungan seluruh pelaku di ekosistem pasar modal agar instrumen baru ini efektif.

"Saya harapkan memang produk ini menghubungkan antara manajer investasi, custodian bank, bank bullion, dealer, dan bursa efek. Dan emas bukan hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga meningkatkan likuiditas," kata Airlangga dalam peluncuran ETF emas, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/8/2026).

Ia menambahkan, ETF emas membuka jalur partisipasi baru bagi industri asuransi yang sebelumnya terbatas untuk berinvestasi langsung pada bullion.

"Dengan ETF, maka asuransi bisa investasi emas. Sebelumnya asuransi tidak bisa investasi di bullion. Jadi ini salah satu yang kita akan terus dorong," ujarnya.

Pasar Global dan Ambisi Indonesia

Airlangga melihat potensi pengembangan ETF emas di Indonesia cukup besar. Ia menyebut nilai ETF emas global telah mencapai sekitar US$4.047 miliar, dengan Amerika Serikat sekitar US$526 miliar, China sekitar US$45 miliar, dan India sekitar US$17,5 miliar.

Di dalam negeri, jumlah emas yang dikelola Pegadaian mencapai sekitar 153 ton atau setara sekitar US$20 miliar. Menurut Airlangga, besarnya basis aset ini memberi ruang bagi Indonesia untuk mengejar pasar ETF emas negara lain di kawasan.

"India sebetulnya bisa kita balap dengan waktu cepat. Jadi kita akan dalam waktu cepat bisa melampaui Singapura. Dan dengan demikian tentu kita lebih dalam lagi," ujar dia.

EGR dan Kebijakan Pajak yang Disiapkan

Selain peluncuran ETF emas, Airlangga menilai Electronic Gold Receipt (EGR) memiliki peran penting sebagai penopang ekosistem. Ia mengapresiasi langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memungkinkan EGR dicatat sebagai efek di dalam portofolio ETF emas.

Sejalan dengan itu, pemerintah tengah membahas perlakuan perpajakan atas transaksi EGR. Skema yang dikaji mencakup Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22.

"Harapannya bisa meningkatkan transaksi dan setara dengan transaksi yang lain, terutama yang di bursa," ujarnya.

Fundamental Ekonomi dan Kebutuhan Pembiayaan

Airlangga menyebut pengembangan ETF emas berlangsung di tengah fundamental ekonomi yang dinilai tetap kuat. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada kuartal II 2026 dan mencatat pertumbuhan 5,45% pada semester I 2026.

Pertumbuhan tersebut berada di atas rata-rata ekonomi global yang sekitar 3%. Sementara itu, investasi Indonesia tumbuh 7,2% secara tahunan dengan nilai lebih dari Rp 1.000 triliun.

Ke depan, kebutuhan pembiayaan ekonomi diproyeksikan meningkat dari sekitar Rp 7.400 triliun pada 2026 menjadi Rp 9.200 triliun pada 2029.

"Harapannya dengan produk baru ETF, kita akan terus memperkuat Indonesia punya kedalaman sektor keuangan," kata Airlangga.

Rekomendasi