Suasana SDN 1 Kebondalem, Pemalang, Jawa Tengah, memanas ketika ratusan warga dan orang tua siswa mendatangi sekolah pada Senin (5/10/2026). Mereka menuntut kejelasan dan keadilan atas meninggalnya MHA (7), siswa kelas 2 yang diduga menjadi korban perundungan kakak kelas. Kasus perundungan siswa Pemalang ini menjadi sorotan.
Aksi berlangsung sekitar dua jam, sejak pukul 09.30 WIB hingga 11.30 WIB. Massa berkumpul di sekitar lingkungan sekolah dan meminta pengusutan dilakukan secara transparan.
Ketegangan sempat terjadi ketika sebagian warga berusaha masuk ke area sekolah. Saling dorong dengan petugas keamanan yang berjaga di depan gerbang tidak terhindarkan.
Selain mempertanyakan kematian korban, warga juga mengungkap dugaan kekerasan dan praktik pemalakan yang disebut pernah terjadi di lingkungan sekolah tersebut.
Antika (33), warga Desa Kaligelang, Pemalang, yang anaknya kini duduk di kelas 3, turut hadir memantau kondisi di sekolah.
"Sebagai orang tua saya mengaku resah. Karena itu, saya datang kesini untuk memantau situasi barangkali ada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," tutur Antika yang tinggal di Desa Kaligelang Pemalang ini.
Ia menyebut kekhawatiran itu berangkat dari pengalaman anaknya yang pernah diduga mengalami kekerasan saat masih kelas 1. Saat itu, anaknya mengeluh sakit, demam, dan kesulitan buang air besar. Antika lalu berkomunikasi dengan guru dan wali kelas; persoalan diselesaikan setelah siswa yang diduga melakukan kekerasan meminta maaf.
"Kalau ini kan sudah keterlaluan, sudah menyangkut nyawa anak. Jadi harus ditindaklanjuti," tandas Antika.
Antika mendesak adanya tindakan tegas kepada pihak yang dianggap bertanggung jawab. Ia berharap kepala sekolah maupun siswa yang diduga terlibat bisa mendapat sanksi berat, termasuk kemungkinan dikeluarkan dari sekolah, sesuai hasil pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.
Ketegangan di sekolah juga diwarnai kedatangan Plt Bupati Pemalang, Nurkholes, pada pukul 10.10 WIB. Ia bertemu perwakilan warga dan orang tua siswa untuk mendengarkan langsung keluhan mereka selama lebih dari satu jam.
"Karena dari kejadian itu sudah menutup-nutupi, sudah mengajarkan anak untuk berbohong. Jadi menurut saya enggak bangetlah jadi kepala sekolah seperti itu," tukas Nurkholes.
Dalam tuntutan warga, turut terungkap kesaksian lain mengenai dugaan pemalakan terhadap siswa. Anak dari Akuyas (45), yang kini kelas 4, mengaku pernah dipalak kakak kelas saat hendak jajan ke kantin. Aksi itu diduga dilakukan siswa kelas 5 atau 6.
Akuyas menyebut telah mengajarkan anaknya untuk berani bercerita dan melapor kepada orang tua bila mengalami kejadian serupa. Persoalan itu juga pernah disampaikan kepada pihak sekolah ketika anaknya masih duduk di kelas 2.
Sementara itu, Polres Pemalang memastikan penyelidikan kasus kematian MHA terus berjalan. Kasat Reskrim Polres Pemalang AKP M Faizal Wildan Umar membantah informasi yang beredar di media sosial terkait salah satu terduga pelaku disebut pindah ke Surabaya bersama orang tuanya.
"Tidak sesuai. Para pihak masih ada di Pemalang semuanya," ujar Wildan saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (4/10/2026).
Polisi juga telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap para saksi serta pihak yang diduga terkait dengan perkara ini.