BPS Jatim Proyeksikan Produksi Padi 2025 Capai 10,44 Juta Ton GKG, Naik Signifikan

Badan Pusat Statistik Jawa Timur (BPS Jatim) memproyeksikan **produksi padi Jatim 2025** akan melonjak signifikan. Luas panen dan hasil gabah kering giling (GKG) diprediksi meningkat drastis, menjanjikan ketahanan pangan yang lebih baik.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BPS Jatim Proyeksikan Produksi Padi 2025 Capai 10,44 Juta Ton GKG, Naik Signifikan
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur melaporkan peningkatan signifikan Luas Panen Padi Jatim 2025 mencapai 1,84 juta hektare, berpotensi dongkrak ketahanan pangan daerah. (AntaraNews)

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur memproyeksikan peningkatan signifikan pada sektor pertanian padi di wilayahnya sepanjang tahun 2025. Data terbaru menunjukkan bahwa luas panen padi diperkirakan mencapai 1,84 juta hektare, menandai pertumbuhan yang substansial. Peningkatan ini menjadi kabar baik bagi ketahanan pangan daerah.

Proyeksi BPS Jatim tersebut juga mengindikasikan lonjakan produksi gabah kering giling (GKG) yang mencapai 10,44 juta ton. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 12,6 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Kenaikan ini diharapkan dapat memperkuat pasokan beras di Jawa Timur.

Statistisi Ahli Madya BPS Jatim, Ike Rahayu Sri, menjelaskan bahwa puncak panen padi pada tahun 2025 akan bergeser ke bulan Maret. Pergeseran ini berbeda dari pola tahun 2024 yang puncaknya terjadi pada April. Proyeksi ini memberikan gambaran jelas tentang potensi pertanian Jatim.

Proyeksi Peningkatan Luas Panen dan Produksi Gabah

BPS Jawa Timur mencatat bahwa luas panen padi pada tahun 2025 diproyeksikan mencapai sekitar 1,84 juta hektare. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 13,88 persen atau sekitar 0,22 juta hektare dibandingkan tahun 2024. Pada tahun sebelumnya, luas panen padi tercatat sebesar 1,62 juta hektare di seluruh wilayah Jawa Timur.

Puncak panen padi pada tahun 2025 diperkirakan akan terjadi pada bulan Maret, dengan luas panen mencapai 0,36 juta hektare. Pergeseran ini penting untuk perencanaan logistik dan distribusi hasil panen. Sementara itu, pada April 2024, puncak panen padi mencapai 0,37 juta hektare.

Selain luas panen, produksi padi gabah kering panen (GKP) di Jawa Timur untuk tahun 2025 juga diproyeksikan meningkat. Total produksi GKP diperkirakan mencapai 12,55 juta ton. Angka ini naik 12,6 persen atau setara 1,4 juta ton GKP dari 11,15 juta ton GKP pada tahun 2024.

Produksi padi gabah kering giling (GKG) pada tahun 2025 juga menunjukkan tren positif, mencapai sekitar 10,44 juta ton GKG. Kenaikan ini sebesar 12,6 persen atau 1,17 juta ton GKG dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 9,27 juta ton GKG. Peningkatan ini menegaskan potensi besar **produksi padi Jatim 2025**.

Distribusi Produksi dan Wilayah Unggulan

Produksi padi GKP tertinggi di Jawa Timur pada tahun 2025 diperkirakan terjadi pada bulan Maret, dengan volume mencapai 2,45 juta ton GKP. Sebaliknya, produksi terendah tercatat pada bulan Januari, yaitu sekitar 0,46 juta ton GKP. Pola serupa juga terlihat pada produksi GKG.

Bulan Maret 2025 juga menjadi periode dengan produksi GKG tertinggi, mencapai 2,04 juta ton GKG. Sementara itu, produksi GKG terendah pada tahun yang sama terjadi di bulan Januari, dengan angka sekitar 0,38 juta ton GKG. Fluktuasi bulanan ini menjadi perhatian penting.

Tiga kabupaten/kota yang diproyeksikan memiliki total produksi padi GKG tertinggi pada tahun 2025 adalah Lamongan, Bojonegoro, dan Ngawi. Daerah-daerah ini secara konsisten menjadi lumbung padi utama. Sebaliknya, Kota Batu, Kota Mojokerto, dan Kota Kediri tercatat memiliki produksi GKG terendah.

Kenaikan produksi padi yang signifikan pada tahun 2025 terlihat di beberapa kabupaten/kota seperti Bojonegoro, Lamongan, dan Jombang. Namun, beberapa daerah lain seperti Sidoarjo, Malang, dan Kota Kediri justru mengalami penurunan produksi. Perbedaan ini menunjukkan tantangan regional yang beragam.

Dampak Terhadap Ketersediaan Beras Konsumsi

Proyeksi peningkatan **produksi padi Jatim 2025** memiliki implikasi langsung terhadap ketersediaan beras untuk konsumsi penduduk. Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras, totalnya setara dengan 6,03 juta ton beras sepanjang tahun 2025. Angka ini menunjukkan kenaikan yang signifikan.

Kenaikan produksi beras ini mencapai 12,6 persen atau 0,67 juta ton dibandingkan tahun 2024, yang tercatat sebesar 5,35 juta ton. Peningkatan ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga dan pasokan beras di pasar. Ketersediaan pangan menjadi prioritas utama pemerintah daerah.

Sama seperti produksi gabah, produksi beras tertinggi pada tahun 2025 juga diperkirakan terjadi pada bulan Maret, mencapai 1,18 juta ton. Sementara itu, produksi beras terendah tercatat pada bulan Januari, yaitu 0,22 juta ton. Data ini penting untuk perencanaan distribusi pangan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi