Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya merubah cara kerja di sektor industri global, tetapi juga memunculkan gelombang baru orang-orang kaya. Saat ini, jumlah miliarder yang berhasil membangun kekayaan dari bawah di bawah usia 30 tahun telah mencapai angka tertinggi dalam sejarah.
Dalam waktu tiga bulan terakhir, sebanyak 11 miliarder muda telah resmi masuk dalam daftar orang terkaya di dunia. Sebagian besar dari mereka memperoleh kekayaan yang signifikan berkat bisnis yang berbasis AI. Hal ini sebagaimana dikutip dari Fortune pada hari Jumat, (26/12/2025).
Fenomena ini terjadi di tengah tantangan yang dihadapi oleh Generasi Z. Di satu sisi, banyak anak muda yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena adanya AI. Namun, di sisi lain, teknologi yang sama justru menjadi mesin pencetak kekayaan bagi generasi wirausaha muda. Menurut analisis yang dilakukan oleh Forbes, pada tahun 2025, jumlah miliarder mandiri berusia 20-an tahun meningkat pesat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan total mencapai sekitar 13 orang, melonjak tajam dari rekor sebelumnya yang hanya tujuh orang.
Banyak miliarder muda ini meraih status mereka dalam waktu yang sangat singkat. Dari 13 orang tersebut, sekitar 11 orang mencatatkan peningkatan kekayaan dalam tiga bulan terakhir, termasuk CEO Polymarket Shayne Coplan, salah satu pendiri startup coding Loveable Fabian Hedin, serta pengusaha AI Arvid Lunnemark.
Dari 11 miliarder baru ini, delapan di antaranya berhasil mengumpulkan kekayaan melalui inovasi di sektor kecerdasan buatan. Salah satunya adalah Sualeh Asif, 25 tahun, pendiri Anysphere, perusahaan yang mengembangkan Cursor, alat pengeditan berbasis AI yang saat ini bernilai sekitar USD 29,3 miliar.
Selain itu, terdapat pula Adarsh Hiremath dan Surya Midha yang masih berusia 22 tahun. Keduanya mendirikan Mercor, sebuah startup perekrutan berbasis AI yang menghubungkan talenta global dengan laboratorium AI terbesar di Silicon Valley. Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa meskipun AI membawa tantangan, ia juga menciptakan peluang baru bagi generasi muda untuk berinovasi dan meraih kesuksesan.
Advertisement
Kisah Wanita Miliarder Termuda di Dunia
Di antara para pengusaha muda yang bersinar, Luana Lopes Lara menjadi sorotan utama. Ia diakui sebagai miliarder wanita termuda di dunia yang berhasil mengumpulkan kekayaannya secara mandiri.
Kekayaan Lopes Lara melonjak hingga sekitar USD 1,3 miliar atau setara dengan Rp 21,7 triliun (berdasarkan kurs dolar AS terhadap rupiah yang mencapai 16.763) setelah startup prediksinya, Kalshi, mencapai valuasi yang luar biasa, yaitu USD 11 miliar atau Rp 184,2 triliun. Namun, perjalanan hidupnya menuju industri teknologi tidaklah biasa.
Pengusaha yang lahir di Brasil ini awalnya memiliki impian untuk menjadi balerina profesional. Ia bahkan pernah bekerja selama sembilan bulan sebagai penari profesional di Austria.
Namun, karier yang memerlukan ketahanan fisik tersebut ditinggalkannya untuk mengejar cita-cita menjadi inovator teknologi yang diakui secara global. Selama menempuh pendidikan teknik di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Lopes Lara memanfaatkan waktu musim panasnya dengan melakukan magang di perusahaan investasi besar, seperti Bridgewater Associates yang didirikan oleh Ray Dalio dan Citadel Securities yang didirikan oleh Ken Griffin.
Advertisement
Titik Balik
Titik balik dalam perjalanan kariernya terjadi ketika ia bergabung dengan Five Rings Capital, bekerja bersama rekan sesama mahasiswa MIT, Tarek Mansour. Keduanya memiliki visi yang sejalan untuk menciptakan sebuah platform pasar prediksi yang memungkinkan pengguna untuk bertaruh pada berbagai hasil, mulai dari pertandingan olahraga hingga pemilu dan peristiwa global.
Ide inovatif ini kemudian melahirkan Kalshi setelah mereka berhasil lolos dari program akselerator Y Combinator. Pada tahun 2020, Kalshi mencetak sejarah sebagai platform pasar prediksi pertama yang mendapatkan regulasi federal dari Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC).
Awal bulan ini, Kalshi berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar USD 1 miliar, yang meningkatkan valuasi perusahaan menjadi USD 11 miliar dan mengantarkan Lopes Lara serta Mansour ke dalam daftar miliarder dunia. Di era kecerdasan buatan, usia muda tidak lagi menjadi penghalang untuk membangun kerajaan bisnis yang bernilai miliaran dolar AS.