BUMN Inka Catat Utang Rp4,7 Triliun, Rugi Rp670 Miliar

BP BUMN dan Danantara menyiapkan grand plan transformasi untuk INKA yang tertekan utang dan rugi. Dony Oskaria paparkan fokus perbaikan.

Arief Rahman H
Oleh Arief Rahman H - Reporter
BUMN Inka Catat Utang Rp4,7 Triliun, Rugi Rp670 Miliar
Penampakan kereta ekonomi yang memilik predikat premium yang produksi PT INKA yang dipesan oleh PT Kereta Api Indonesia. (Foto: INKA)

PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA tengah berada di bawah tekanan kinerja dan keuangan. Badan Pengaturan (BP) BUMN bersama Danantara Indonesia menyiapkan langkah turnaround guna memperbaiki fondasi perusahaan yang kini menghadapi ekuitas negatif, unsustain loan Rp 4,7 triliun, serta rugi Rp 670 miliar.

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menilai pembenahan tidak bisa berhenti pada sisi finansial. Perusahaan perlu perbaikan menyeluruh pada aspek yang memengaruhi performa, mulai dari tata kelola hingga operasional harian.

"Kita ingin melakukan turnaround. Dan turnaround itu hanya bisa dilakukan kalau kita punya komitmen yang sama ingin membuat perusahaan ini menjadi lebih baik, dengan governance yang benar," kata Dony Oskaria. 

Ia menambahkan, penyelesaian masalah keuangan INKA tidak cukup dengan pendekatan jangka pendek. Transformasi akan dituangkan ke dalam sebuah grand plan terintegrasi sebagai acuan pembenahan lintas lini perusahaan.

Agenda Transformasi INKA

Agenda transformasi mencakup evaluasi dan pembenahan aspek fundamental, antara lain model bisnis, tata kelola, budaya kerja, kualitas produksi, operasional, teknik, keuangan, dan proses bisnis. Setiap pilar akan ditangani secara terintegrasi agar saling menguatkan.

Langkah ini krusial mengingat posisi INKA sebagai produsen kereta api nasional. Perbaikan diarahkan tidak hanya untuk meredakan tekanan internal, tetapi juga memastikan daya saing INKA sejalan dengan dinamika industri perkeretaapian.

Dony menekankan pentingnya sinkronisasi antarbagian. Peningkatan efisiensi operasional dan kualitas produksi harus berjalan beriringan dengan penguatan tata kelola agar pemulihan kinerja dapat berkelanjutan.

Isu liabilitas yang tinggi menjadi salah satu fokus pembenahan dalam proses turnaround. Rencana besar yang disiapkan akan menjadi panduan implementasi agar prioritas perbaikan di setiap lini jelas dan terukur.

Transformasi ini juga sejalan dengan penguatan BUMN agar tidak hanya bertahan, tetapi menghasilkan kinerja yang lebih sehat di jangka panjang.

Keluar dari Tekanan

Pembenahan INKA memiliki dimensi strategis bagi industri nasional. Sebagai manufaktur kereta api milik negara, INKA memegang peran dalam pengembangan industri perkeretaapian dan mendorong industrialisasi di dalam negeri.

Karena itu, arah turnaround tidak semata menyelesaikan utang dan kerugian. Pemerintah menargetkan INKA kembali menjadi manufaktur yang efisien, produktif, dan kompetitif di pasar global.

"Karena saya maunya kayak tadi kan Presiden maunya industri kereta api kita ini betul-betul maju," kata Dony.

Dengan kondisi keuangan yang masih tertekan, pekerjaan besar menanti: penyelesaian kewajiban, penguatan ekuitas, peningkatan efisiensi, dan penegakan tata kelola. Semua itu menjadi bagian dari eksekusi grand plan yang telah disiapkan.

Transformasi juga ditujukan untuk mengangkat kualitas produksi dan operasional, sehingga pemulihan tidak hanya bertumpu pada perbaikan finansial, melainkan didukung model bisnis yang lebih tangguh.

Keberhasilan turnaround akan bergantung pada konsistensi pelaksanaan rencana dan komitmen seluruh jajaran. Jika pembenahan berjalan menyeluruh, INKA diharapkan mampu keluar dari tekanan kinerja dan kembali berperan di industri perkeretaapian nasional maupun global.

Rekomendasi