PT Pertamina (Persero) menyatakan bahwa ekosistem terintegrasi adalah kunci utama transisi menuju energi bersih. Pernyataan ini disampaikan dalam Indonesia International Sustainability Forum (IISF) di Jakarta. Perusahaan melihat inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan sebagai pilar utama. Pendekatan ini diharapkan mempercepat peralihan energi rendah karbon di Indonesia.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, mencontohkan keberhasilan pendekatan ini. Pengembangan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) menjadi bukti nyata. Kolaborasi erat antara Pertamina Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional, dan Pelita Air Service terjalin.
"Ke depan, bagaimana memastikan transformasi ini benar-benar terjadi? Kuncinya adalah dengan pendekatan ekosistem," kata Agung Wicaksono. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi emisi karbon secara signifikan. Namun juga mendorong ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Sinergi Inovatif dalam Pengembangan Bahan Bakar Berkelanjutan
Pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) merupakan contoh nyata sinergi dalam ekosistem energi bersih Pertamina. Proses ini melibatkan beberapa entitas di bawah naungan Pertamina. Pertamina Patra Niaga bertanggung jawab mengumpulkan minyak jelantah dari masyarakat. Ini merupakan langkah awal yang krusial dalam rantai pasok berkelanjutan.
Selanjutnya, Kilang Pertamina Internasional memproses minyak jelantah tersebut. Pengolahan dilakukan di kilang hijau (green refinery) untuk menghasilkan SAF. Pelita Air Service kemudian memanfaatkan SAF ini sebagai bahan bakar penerbangan. Rute Jakarta ke Denpasar menjadi rute percontohan penggunaan bahan bakar ini.
Agung Wicaksono menjelaskan bahwa inisiatif SAF ini sangat berdampak positif. Teknologi ini mampu menekan emisi karbon hingga 84 persen. Selain itu, program ini juga mendorong ekonomi sirkular dengan insentif bagi masyarakat. Keberhasilan SAF membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah yang kuat.
Advertisement
Advertisement
Diversifikasi Portofolio Energi Rendah Karbon
Selain SAF, ekosistem energi bersih Pertamina juga merambah pengembangan hidrogen hijau. Proyek percontohan hidrogen hijau sedang digarap di Ulubelu, Lampung. Fasilitas ini akan menjadi yang pertama mengintegrasikan teknologi elektrolisis membran modern (AEM). Sumber listrik bersihnya berasal dari energi panas bumi.
Pertamina menargetkan fasilitas hidrogen hijau ini dapat beroperasi pada tahun depan. Proyek ini juga melibatkan kolaborasi strategis dengan mitra global. "Kami juga bekerja sama dengan Toyota (dalam proyek pengembangan hidrogen hijau ini)," ungkap Agung. Kemitraan ini memperkuat komitmen Pertamina dalam inovasi energi.
Upaya dekarbonisasi juga diperkuat di sektor hulu (upstream). Sektor ini memiliki potensi terbesar untuk pengurangan emisi karbon. Pertamina menyiapkan proyek percontohan Carbon Capture and Storage (CCS). Selain itu, Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) juga akan diterapkan.
Advertisement
Proyek CCS/CCUS ini direncanakan di wilayah Cekungan Sunda Asri, Gundih, dan Sukowati. Teknologi ini tidak hanya menekan emisi gas rumah kaca. Namun juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi minyak. Proses ini dikenal sebagai enhanced oil recovery (EOR).
Advertisement
Strategi Pertumbuhan Ganda untuk Keberlanjutan
Transformasi Pertamina didasarkan pada strategi pertumbuhan ganda (dual growth strategy). Strategi ini memastikan keseimbangan antara bisnis eksisting dan pengembangan baru. Di satu sisi, perusahaan tetap mengoptimalkan bisnis minyak dan gas. Pengolahan kilang juga terus dijaga untuk profitabilitas.
"Transformasi tidak akan terjadi jika hanya berfokus pada bisnis existing," jelas Agung. Oleh karena itu, mesin kedua dalam strategi ini adalah pengembangan bisnis rendah karbon. Ini menunjukkan komitmen Pertamina terhadap masa depan energi yang lebih bersih.
Melalui pendekatan ekosistem energi bersih Pertamina dan strategi ganda ini, Pertamina berupaya menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi. Agenda dekarbonisasi menjadi prioritas untuk mempercepat transisi. Tujuannya adalah menciptakan masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi Indonesia.
Advertisement
Sumber: AntaraNews