Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso mengakui bahwa Indonesia masih membutuhkan impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Impor dilakukan bukan karena kualitas kedelai produksi tana air yang tidak bagus. Melainkan, kedelai domestik tidak cocok untuk produk hasil olahannya.
Budi Waseso mengatakan, kedelai dalam produksi dalam negeri hanya cocok untuk produksi tahu. Sedangkan untuk tempe, lebih bagus hasilnya jika menggunakan kedelai impor.
"Perlu saya sampaikan, kedelai dalam negeri itu lebih cocok dan bagus di kalah dibuat untuk tahu, tempe itu bagusnya dari produksi impor karena kedelainya besar-besar," tutur Budi saat ditemui di Gudang Bulog Jakarta-Banten, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (11/3).
Di sisi lain, tempe dan tahu merupakan sumber alternatif protein masyarakat yang paling terjangkau. Budi Waseso menuturkan, dalam setahun, kebutuhan kedelai secara nasional hanya untuk pengrajin tahu dan tempe mencapai 3 - 3,5 juta ton per tahunnya. Sementara produksi dalam negeri maksimal hanya 1 juta ton per tahun. Artinya secara umum 2,5 juta ton sisanya terpenuhi dengan cara impor.
"Produksi dalam negeri itu masih relatif paling banyak atau maksimal 1 juta ton," kata dia.
Advertisement
Untuk mengurangi impor kedelai, Budi menyebut saat ini Kementerian Pertanian sedang menggalakan penanaman kedelai. Saat ini Kementerian Pertanian sedang melakukan pemetaan wilayah-wilayah yang bisa menjadi sentra produksi kedelai.
"Mentan (Menteri Pertanian) sudah berupaya untuk itu dan beliau sedang memetakan wilayah yang bisa memproduksi kedelai," katanya.
Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan produksi dalam negeri dan membuat Indonesia mengurangi volume impor kedelai.
"Harapannya step by step meningkat produksi dalam negeri sehingga kedelai itu akan dipenuhi dalam negeri. Ini yang kita harapkan dan kita percayakan," katanya mengakhiri.