Per 11 Mei, Penyaluran Banpres Produktif Usaha Mikro Capai 76,6 Persen

Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) mencatat, per tanggal 11 Mei lalu sudah tersalurkan kepada 9,8 juta usaha mikro nilainya masing-masing Rp1,2 juta. Dari survei, program ini membantu usaha mikro sebesar 99,94 persen yang omset usahanya di bawah Rp 300 juta per tahun.

Siti Nur Azzura
Oleh Siti Nur Azzura - Reporter
Per 11 Mei, Penyaluran Banpres Produktif Usaha Mikro Capai 76,6 Persen
UMKM. ©2020 Merdeka.com

Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) mencatat, per tanggal 11 Mei lalu sudah tersalurkan kepada 9,8 juta usaha mikro nilainya masing-masing Rp1,2 juta. Dari survei, program ini membantu usaha mikro sebesar 99,94 persen yang omset usahanya di bawah Rp 300 juta per tahun.

"Sebanyak 98,9 persen penerima program ini menggunakan dana untuk keperluan usaha bukan konsumtif, sebagian besar untuk membeli bahan baku sekitar Rp 1,1 juta. Sebagian lainnya digunakan untuk membayar sewa tempat dan lainnya,"Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Riza Damanik, Jumat (28/5).

Dia menambahkan, sebanyak 73,5 persen bergerak di perdagangan, 13,5 persen di sektor pertanian, 3 persen di industri pengolahan. Kemudian sebanyak 75,9 persen penerima bantuan ini tetap membuka usaha di masa pandemi. Dari jumlah tersebut, 76,5 persen usaha di lokasi di rumah. 5,3 persen lokasi usaha di sekitar tempat umum seperti sekolah atau kantor, dan 4,8 persen berusaha di pasar.

Menurut Riza, penerima program ini memiliki jumlah pekerja rata-rata di bawah 10 orang dengan mayoritas perempuan. Meski dana yang digunakan tidak besar tetapi bisa digunakan untuk bisa bertahan. Hal ini dibuktikan berdasarkan survei penerima hibah yang usahanya mengalami kenaikan 41,1 persen.

Riza menekankan, tentu kenaikan ini tidak bisa dipisahkan dengan pemulihan kesehatan. UMKM tumbuh jika masalah kesehatan masyarakat juga diselesaikan. "Semakin landai atau turun virusnya semakin baik kesehatan masyarakatnya. Insya Allah UMKM-nya akan semakin tumbuh ekonomi," katanya.

Kepala Biro Perekonomian Sekda Provinsi Jawa Barat Benny Bachtiar juga meminta para pelaku UMKM jangan patah semangat karena pemerintah ada di belakang. Menurutnya, kalaupun belum tersentuh pemerintah, lebih karena adanya skala prioritas. Dia memastikan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen UMKM harus tumbuh. Karena 96 persen ekonomi Jawa Barat digerakkan UMKM.

"Kami terlebih dahulu membantu UMKM yang paling terdampak pandemi dan bertahap kepada UMKM lain," ujarnya.

Edukator Wirausaha Didiet Maulana berharap, pemerintah melanjutkan program meningkatkan ilmu dan kemampuan. Menurutnya, ada kisah yang mengajarkan untuk menolong orang tidak dengan memberi ikan. Karena itu hanya bersifat sementara. Tetapi membantu dengan mengajari mencari ikan.

"Memberi ikan hanya bisa menolong satu hari saja. Tapi ajari mencari ikan, berarti kita membantu memberi makan seumur hidup," tuturnya.

Adapun Pelaku UMKM Ayu Oktarini menambahkan, tidak hanya modal yang dibutuhkan tetapi juga pelatihan yang mudah dipraktikkan. Di antaranya pelatihan manajemen. "Karena kadang pelaku usaha setelah diajari bagaimana membuat sebuat kreasinya, kadang tidak menguasai manajemen, bagaimana kelola uang dan sebagainya," katanya.

Rekomendasi