Agustus 2020, ICP Naik USD 0,99 per Barel Dipengaruhi Badai Laura

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan ICP Agustus sebesar USD 41,63 per barel atau naik USD 0,99 per barel dibanding bulan sebelumnya.

Siti Nur Azzura
Oleh Siti Nur Azzura - Reporter
Agustus 2020, ICP Naik USD 0,99 per Barel Dipengaruhi Badai Laura
Ilustrasi Migas. istimewa ©2019 Merdeka.com

Kekhawatiran akan badai tropis Marco dan Laura melewati jantung industri minyak di Amerika Serikat turut mempengaruhi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan ICP Agustus sebesar USD 41,63 per barel atau naik USD 0,99 per barel dibanding bulan sebelumnya.

"ICP Agustus sangat dipengaruhi oleh kebijakan Amerika Serikat menyikapi kejadian Badai Laura di sekitar Teluk Meksiko. Selain dipangkas, mereka bahkan menghentikan pengoperasian minyak di lepas pantai kendati tidak menyebabkan kerusakan yang meluas," Kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, dikutip Antara, Senin (7/9).

Besaran ICP ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri Nomor 158 K/12/MEM/2020 tentang Penetapan Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Agustus 2020 tertanggal 3 September 2020. Selain kejadian alam yang menerpa wilayah Teluk Meksiko, sambung Agung, terpantau prospek pasar atas permintaan minyak mentah masih sangat terpengaruh oleh pandemi virus corona.

"Covid-19 masih menjadi variabel penting dalam memperbaiki ICP," jelasnya.

Sesuai catatan Kementerian ESDM, rata-rata ICP sepanjang tahun 2020 hingga bulan berjalan mencapai USD 40,08 per barel. Rinciannya, ICP Januari sempat mencapai angka USD 65,38 per barel, kemudian bergerak turun akibat pandemi, yakni USD 56,51 per barel (Februari), USD 34,23 per barel (Maret), dan USD 20,66 per barel (April).

Namun berangsurnya kelonggaran aktivitas ekonomi serta harapan akan penemuan vaksin Covid-19, ICP perlahan merangkak naik di angka USD 25,67 per barel di bulan Mei, USD 36,68 per barel (Juni), USD 40,64 per barel (Juli), dan USD 41,63 per barel (Agustus).

Menurut Agung, faktor lain yang mempengaruhi pergerakan ICP adalah tingkat kepatuhan OPEC+ terhadap kesepakatan pemotongan produksi yang mencapai 95 persen dan rencana pemotongan produksi beberapa negara OPEC+ di bulan Agustus dan September 2020 sebagai kompensasi atas kelebihan produksi di bulan Mei - Juli 2020.

Laporan OPEC bulan Agustus 2020 menunjukkan tren ekonomi yang positif dengan pulihnya sektor jasa, ditandai dengan pertumbuhan pendapatan yang melebihi perkiraan, yang secara umum mendukung pasar ekuitas.

Selain itu, jumlah rig yang beroperasi di Amerika Serikat mulai berkurang menjadi 176 unit di awal bulan Agustus 2020 (683 rig di bulan Maret 2020 dan 185 rig di bulan Juli 2020). Ada pula margin kilang secara global yang mulai pulih di bulan Juli 2020 karena meningkatnya aktivitas transportasi sebagai efek dari pelonggaran lockdown di beberapa Negara.

Sementara itu, Energy Information Administration (EIA) merinci laporan akan penurunan stok minyak mentah AS turun sebesar 10,8 juta barel menjadi sebesar 507,8 juta barel dan stok produk gasoline AS turun sebesar 8,6 juta barel menjadi sebesar 239,2 juta barel.

Rekomendasi