Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS nampaknya tidak selamanya merugikan berbagai pengusaha. Justru, menguatnya kurs dolar ini dimanfaatkan perusahaan untuk meningkatkan ekspor. Seperti di antaranya yang dilakukan PT Perkebunan Nusantara III (Persero) dan PT Barata Indonesia (Persero).
Direktur Utama PTPN III (holding), Dolly P Pulungan mengatakan, pihaknya saat ini tidak terlalu mempermasalahkan pelemahan rupiah tersebut. Karena sebagian pendapatan perusahaan berbentuk dolar AS, terutama dari produk ekspor.
"Alhamdulillah kita genjot ekspor terus dan kita coba untuk tidak melalui trader jadi langsung ke user. Dengan ini diharapkan bisa memperoleh pendapatan yang lebih maksimal. Jadi pelemahan rupiah ini kita masih bisa atasi," ujarnya di Kementerian BUMN, Rabu (9/5).
Dolly mengatakan, potensi ekspor langsung ke buyer tersebut sangatlah besar. Selama ini dengan melalui pihak ke tiga, rantai distribusi ekspor PTPN III cukup panjang, dengan demikian pendapatan yang diperoleh perusahaan tidak maksimal.
PTPTN III menargetkan ekspor hasil produknya terutama komoditas kelapa sawit mencapai 400 ribu ton. Dengan mencoba langsung ke buyer, perusahaan menargetkan bisa mengekspor 2,5 juta ton produknya.
Sementara di kesempatan yang sama, Direktur Utama Barata Indonesia Silmy Karim mengaku perusahaannya memiliki beberapa produk andalan yang bisa ditingkatkan ekspornya, seperti prasarana kereta api.
"Kita kan ada juga ekspor beberapa produk di beberapa negara. Pendapatan dolar AS kami itu setiap tahun ada sekitar USD 5 juta. Jadi kurs dolar menguat masih aman lah buat kita," tegasnya.
Reporter: Ilyas Istinaur Praditya
Sumber: Liputan6.com