Cerita sedihnya Jokowi dan sebab RI tak bisa lepas jerat impor beras

Presiden Jokowi mengungkapkan ada beberapa komoditas pangan yang seharusnya Indonesia bisa mandiri, tapi kenyataannya masih bergantung impor, diantaranya buah, jagung, beras. Presiden Jokowi menegaskan bahwa kecukupan pangan Indonesia ini hanya masalah niat dari pemangku kepentingan untuk mewujudkannya.

Bimo Pratomo
Oleh Bimo Pratomo - Reporter
Cerita sedihnya Jokowi dan sebab RI tak bisa lepas jerat impor beras
sidak beras impor di pelabuhan tanjung priok. ©2014 merdeka.com/imam buhori

Presiden Joko Widodo menyatakan kesedihannya jika mendengar laporan Indonesia masih melakukan impor pangan. Presiden Jokowi mengungkapkan ada beberapa komoditas pangan yang seharusnya Indonesia bisa mandiri, tapi kenyataannya masih bergantung impor, diantaranya buah, jagung, beras."Saya kalau dengar yang namanya impor pangan, itu sedih banget," kata Presiden saat acara pemberian penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara.Presiden Jokowi menegaskan bahwa kecukupan pangan Indonesia ini hanya masalah niat dari pemangku kepentingan untuk mewujudkannya. "Ini hanya masalah niat, mau atau tidak mau. Ada niat, mau atau tidak mau. Kalau niatnya kuat, maunya kuat rampung urusan-urusan seperti itu," katanya.Presiden Jokowi mengatakan Indonesia masih memiliki banyak peluang untuk menjadi lumbungnya pangan dunia karena masih banyak peluang yang bisa dimanfaatkan."Hanya memang kita mengejar ini harus dengan lari, maraton yang cepat. Tidak bisa kita hanya biasa-biasa saja, ketinggalan kita kalau cara larinya biasa biasa saja," harap Presiden.Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan dirinya bersama dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman telah sepakat tidak akan melakukan impor jika stok pangan milik pemerintah masih mencukupi.Sebetulnya mengapa Indonesia tidak bisa lepas dari impor bahan pangan? Mendag menjelaskan di halaman selanjutnya.

Menteri Enggar mengungkapkan saat ini banyak negara yang berlomba untuk memasukkan produknya ke Indonesia, baik produk jadi, pertanian, hingga peternakan. Salah satunya negara-negara produsen beras yang meminta agar produknya bisa dipasarkan di Indonesia."Sikap Kemendag mencermatkan perintah presiden adalah bagaimana mengendalikan pasar kita. Bersama Mentan sepakat tidak akan mengeluarkan izin bahan impor selama kita masih mampu," kata Menteri Enggar.Namun, melihat stok beras yang dimiliki Bulog masih aman hingga beberapa bulan ke depan, Menteri Enggar mengaku tak berani menandatangani kontrak kerjasama dengan negara-negara tersebut untuk melakukan impor beras."Para Menteri Perdagangan dari Pakistan, India, Myanmar, dan Kamboja meminta perbarui dan tandatangan MoU jual beras. Saya sampaikan kami sementara ini belum berpikir untuk impor beras karena punya cadangan lebih."Mendag melanjutkan bagaimana kegigihan para produsen pangan dunia agar Indonesia tetap mengimpor. Salah satunya karena aspek politik."Mereka berpesan hanya sekadar MoU, mereka minta tolong tandatangan saja ini untuk konsumsi politik. Saya tidak berani tandatangan kalau tidak ada izin Mentan," imbuhnya.Masyarakat punya alasan tersendiri mengapa Indonesia tak bisa lepas dari impor beras. Penyebabnya ialah dari aspek sumber daya manusia. Penjelasan lengkapnya ada di halaman selanjutnya.

Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah mengatakan setiap tahun jumlah pekerja pertanian semakin menurun. Ini berpotensi mengancam produksi pangan di Indonesia.Berdasarkan sensus pertanian 2013, Said mencatat, sebanyak 1.369 keluarga keluar dari pertanian dalam sepuluh tahun. Di sisi lain, Indonesia membutuhkan pangan sebanyak 29,4 miliar kilogram beras dan 646 juta kilogram bawang per tahun.Presiden Patriot Pangan dari Perkumpulan Patriot Pangan, Bugiakso mengatakan, kebijakan impor pangan yang diterapkan oleh pemerintah selama ini menjadi penyebab rusaknya kaum tani dan pertanian Indonesia.Menurutnya, kebijakan impor pangan ini sesungguhnya hanya menguntungkan para pelaku eksportir saja."Tetapi tidak bagi kaum petani Indonesia, yakni kelompok terbesar rakyat yang ada di negeri ini," ujarnya di Jakarta.Bugiakso mengatakan, kebijakan impor segala bahan pangan memang benar bisa menjamin ketersediaan. Namun nyatanya, yang terjadi justru menjauhkan negeri agraris dari kedaulatan pangan."Atas nama efisiensi, Indonesia kemudian terjebak, lalu hancur, dan belum sanggup lagi keluar dari jebakan perdagangan dan politik pangan dunia," ujarnya.Dengan perhitungan bahwa impor pangan lebih murah dari biaya produksi sendiri, terlihat seperti akan sangat menguntungkan. "Benar memang menguntungkan, tapi hanya menguntungkan para eksportir," katanya berkelakar.Bugiakso menilai awal mula kehancuran kaum tani dan pertanian Indonesia ketika terjadinya perubahan konsep menanam menjadi membeli. Lalu munculnya fakta dari bercocok tanam menjadi kuli yang akhirnya menjadi petani di Indonesia sama artinya menjadi miskin.Dengan fakta yang ada tersebut, ia melihat banyak anak petani yang tidak mau lagi memendam cita-cita menjadi petani. Lalu muncullah logika berpikir bahwa cara untuk tidak terus terjerumus dalam kemiskinan adalah berhenti menjadi petani."Adakah yang lebih pilu dari mendapati kenyataan seperti ini? Adakah yang lebih ironis dari kenyataan negeri agraris ini?" tutupnya.

Rekomendasi