Bank Indonesia (BI) menyebut kondisi perekonomian Indonesia pada 2017 dihadapkan berbagai tantangan yang tidak ringan, baik yang datang dari eksternal maupun domestik. Apalagi, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS di luar ekspektasi pelaku pasar sehingga berdampak terhadap pasar keuangan khususnya nilai tukar Rupiah yang melemah.
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung mengatakan, terjadinya gejolak di pasar keuangan bukan hanya terjadi di Indonesia saja tetapi juga pada negara berkembang lainnya seperti India dan Brasil.
"Pasar keuangan shock dan menarik dananya di emerging market karena pemenangnya di luar ekspektasi, tapi ini hanya sementara. Mereka (pelaku pasar) menunggu program pemerintah AS, di mana pada Februari 2017 sudah ada kejelasan apakah sesuai kampanye atau tidak," ujar Juda di Jakarta, Selasa (15/11).
Kendati demikian, secara umum Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak ekonomi global dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia.
"Secara fundamental, eksposur kita ke AS tidak terlalu besar, karena kita mengandalkan ekonomi dari domestik. Jadi Indonesia bisa dinilai masih safe haven untuk negara emerging market," jelas dia.
Sementara itu, tantangan domestik diwarnai dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat, defisit fiskal yang diperkirakan masih akan besar, utang luar negeri mengalami kenaikan serta pertumbuhan kredit yang masih rendah dengan diikuti risiko peningkatan kredit bermasalah (Non Performing Loan).
Kebijakan BI senantiasa diarahkan untuk menciptakan kondisi makro ekonomi yang stabil, terutama pencapaian inflasi dan menurunkan defisit transaksi berjalan.
"Tahun depan pertumbuhan fiskal belanja relatif tinggi, penerimaan 13,5 persen, belanja infrastruktur, NPL (kredit macet) sudah turun kalau membaik kuartal kedua sudah mencapai level normal," tutup Juda.