Perekonomian global dan nasional kini dilanda kemerosotan. Di dalam negeri, nilai tukar Rupiah bahkan sudah menyentuh angka Rp 14.000 per USD.
Meski demikian, Bank Indonesia (BI) memperkirakan akan tetap menahan suku bunga acuan atau BI Rate di angka 7,5 persen. Gubernur BI, Agus Martowardojo beralasan untuk kepentingan anggaran.
"Untuk kepentingan anggaran kita tetapkan 7,5. Namun kita senantiasa setiap putuskan BI rate itu berdasarkan data yang ada. Kalau data sudah terlihat akan kami putuskan," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (24/8).
Selain itu, mengacu pada asumsi makro dalam RAPBN 2016, BI juga memproyeksikan posisi cadangan devisa USD 112 miliar, nilai tukar Rp 13.400 per USD, inflasi 4,7 persen dan pertumbuhan PDB 5,5 persen.
Sementara itu, pertumbuhan PDB Dunia diprediksi 3,8 persen, harga minyak USD67 per barel dan pertumbuhan harga komoditas non migas -1,7 persen.
Pendapat Agus Martowardojo ini berbeda dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. JK melihat, kebijakan menahan suku bunga acuan tersebut tidak selaras dengan kondisi nilai tukar Rupiah yang kini sedang terpuruk.
Menurut JK, saat nilai tukar Rupiah melemah terhadap USD, seharusnya BI Rate diturunkan. "Tidak ada cara untuk memperkuat Rupiah dengan menaikkan BI Rate. Selalu dalam keadaan seperti ini BI Rate harus turun," ucap JK di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (18/8).