Belum produksi, perusahaan tambang emas jual saham Rp 2.000/lembar

Dengan penawaran saham perdana ini, MDKA menargetkan meraup dana segar Rp 839,3 miliar.

Angga Yudha Pratomo
Oleh Angga Yudha Pratomo - Reporter
Belum produksi, perusahaan tambang emas jual saham Rp 2.000/lembar
Bursa Efek Indonesia. ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman

Perusahaan mineral tambang PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (19/6). Perusahaan ini mencatatkan diri sebagai emiten ketujuh yang melantai di bursa saham tahun ini.

Meski belum mulai eksplorasi dan produksi, MDKA mematok harga saham Rp 2.000 per lembar. Sebanyak 419,65 juta lembar saham dilepas.

Direktur Utama BEI Ito Warsito menegaskan, MDKA menambah ramai perdagangan saham tahun ini. Masuknya perusahaan tambang ke bursa saham diharapkan menjadi magnet yang menarik investor dunia.

"Kami berharap dengan diperdagangkan MDKA maka akan semarak, investor global menjadikan Indonesia tujuan investasi," kata Ito di Jakarta, Jumat (19/6).

Presiden Direktur MDKA, Adi Adriansyah Sjoekri mengklaim, proses book building dan penawaran memberikan gambaran tingginya minat investor dalam bisnis tambang. Dia pede saham perusahaannya bakal jadi primadona.

"Kami akan berusaha untuk menjaga kepercayaan para investor dengan memberikan performa perusahaan yang baik dan berkelanjutan jangka panjang," ujar Adi.

Saham perusahaan yang menambang emas, perak, tembaga dan mineral ini sempat menyentuh level tertinggi Rp 2.400 per lembar saham dan terendah pada Rp 2.260 per lembar saham di pembukaan perdagangan. Saham ini juga ditransaksikan sebanyak 347 kali dengan volume sebanyak 11 ribu lot. Adapun nilai transaksinya mencapai Rp 2 miliar.

Total saham yang dicatatkan sekitar 3,04 miliar saham. Total kapitalisasi pasar saham yang terbentuk Rp 6,09 triliun.

Dengan penawaran saham perdana ini, MDKA menargetkan meraup dana segar Rp 839,3 miliar. Rencananya dana itu bakal digunakan untuk entitas anak usaha. Di antaranya, pengembangan tambang PT Bumi Suksesindo. Selain itu, dana hasil IPO juga untuk pembayaran utang anak usahanya ini kepada Bank DBS Indonesia dan UOB.

Total aset perseroan per 31 Desember 2014 mencapai USD 126,73 juta dengan total liabilitas mencapai USD 106,57 juta dengan catatan rugi USD 5,03 juta pada 2014.

Rekomendasi