Kinerja perdagangan nasional, khususnya ekspor diperkirakan belum akan membaik dalam waktu dekat. Salah satunya karena faktor eksternal.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi saat berdiskusi dengan wartawan di kantornya, Jumat (26/9). Bayu menerangkan penyebabnya. Menurutnya, Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) sudah merevisi prediksi pertumbuhan perdagangan dunia dari sebelumnya 4,7 persen menjadi hanya 3,1 persen.
"Kami telah mencermati kondisi ini. Kita tetap waspada. Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) tidak kehilangan optimisme untuk target ekspor Indonesia," ujar Bayu.
Dari penjelasan Bayu, turunnya prediksi tersebut tidak lepas dari wabah virus Ebola yang menyerang Afrika. Meski tidak terpengaruh signifikan, Bayu memberikan gambaran dampak Ebola bagi perdagangan Indonesia. Afrika merupakan salah satu pasar ekspor Indonesia. "Afrika 3-4 persen dari total ekspor Indonesia," katanya.
Selain Ebola, faktor eksternal lain yang turut melemahkan pertumbuhan perdagangan dunia adalah konflik Uni Eropa, Amerika Serikat dan Rusia. Perkembangan perdagangan dunia juga masih akan dipengaruhi kondisi politik timur tengah.
meski begitu pemerintah memaksimalkan ekspor membidik pasar Amerika Utara dan Eropa.
"Amerika Utara dan beberapa negara di Eropa seperti Inggris pertumbuhan impornya (ekspor barang Indonesia ke Inggris) 5,7 persen, Jerman 6,5 persen. Beberapa negara prospektif seperti Meksiko, Taiwan, dan Iran masih memberikan pertumbuhan positif," ucapnya.
Terlepas dari itu, Bayu mengklaim pertumbuhan perdagangan Indonesia masih tinggi dengan pasar utama ekspor produk Indonesia ke China dan India. "ASEAN ada yang lebih tinggi Filipina 5 persen, Singapura 3,5 persen. Jadi masih punya kesempatan," tambahnya.