Semangat untuk memelihara nasionalisme dengan upaya menggali potensi investasi seharusnya bisa disatukan untuk menyejahterakan bangsa. Sayang, logika itu sepertinya tidak berlaku di sektor energi Indonesia.
Pemerintah dihadapkan oleh sebuah pilihan, mengelola sektor energi dengan berbasis nasionalisme atau investasi asing. Sementara, Indonesia memiliki sumber daya energi yang luar biasa besar dan beragam yang harus tetap diolah meski perdebatan publik mengenai kedua pilihan itu masih terus terjadi.
Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Gde Pradnyana berkeras bahwa pengembangan industri Migas di tanah air masih butuh keterlibatan investor asing. Soalnya, kekuatan nasional yang ada saat ini belum bisa diandalkan untuk mengelola sumber daya energi di tanah air.
"Indonesia boleh dibilang masih punya cadangan minyak, tapi kalau tidak ditemukan, ya tidak jadi. Tahun lalu saja ada USD 1,4 miliar uang kontraktor hilang untuk mencari migas, andaikan itu harus memakai uang negara, berat sekali bebannya," kata Gde, dalam diskusi, di Jakarta, Senin (8/7).
Menurutnya, pemerintah masih berdaulat terhadap sumber daya energi tanah air, meski kontraktor asing terlihat mendominasi pengelolaannya. Ini lantaran kontraktor asing itu terikat oleh sejumlah peraturan yang pemerintah buat.
"Izin itu bukti kita berdaulat, jangan bayangkan seperti zaman penjajahan. Kontraktor asing sekarang menjual pun tidak bisa kalau pemerintah tidak setuju, itu semua atas persetujuan menteri ESDM," ungkapnya.
Indonesia bisa saja meniru cara Presiden Hugo Chavez yang menasionalisasi sumur minyak di Venezuela. Namun, itu akan berdampak buruk terhadap aliran investasi asing.
Merujuk pada data Petroleum Global Index, akibat ulah Chavez, Venezuela dinilai menjadi negara yang paling tidak dilirik kontraktor migas karena berada di juru kunci. Sementara Indonesia, yang belum berniat menasionalisasi sumur minyak saja hanya berada beberapa tingkat diatas Venezuela.
"Ranking Indonesia makin ke bawah. Banyak dari kita mengidolakan Hugo Chavez tapi Venezuela rangking terbawah. Saya kembalikan saja, kita semakin nasionalis, ranking investasi kita malah turun," katanya.
Satu hal yang membuat Gde menampik bahwa pihaknya lebih pro kontraktor asing. Saat ini produksi minyak kontraktor nasional, Pertamina, sudah mencapai 130 ribu barel perhari. "Dulu, era 1970-an, lebih dari 90 persen minyak diproduksi perusahaan migas asing, Pertamina hanya 50-60 ribu barel.