PSI: Melihat utang negara dari nominal tanpa tahu rasio merupakan penilaian sesat

Sabtu, 14 April 2018 20:00 Reporter : Anggun P. Situmorang
PSI: Melihat utang negara dari nominal tanpa tahu rasio merupakan penilaian sesat Ilustrasi utang. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Juru Bicara PSI Bidang Ekonomi dan Bisnis Rizal Calvary mengatakan, saat ini banyak pihak melihat utang dari nominalnya saja tanpa melihat rasio utang terhadap PDB (Product Domestik Bruto). Menurutnya, penilaian tersebut merupakan salah satu cara pandang yang sesat.

"Ini cara pandang yang sesat, tidak melihat utang dari progresivitas dan kapasitas ekonomi. Ini seperti anak SD melihat utang ayahnya atau utang perusahaan ayahnya. Kaget-kaget dia. Jadi, ukurannya adalah PDB," ujarnya melalui siaran pers, Jakarta, Sabtu (14/4).

Rizal menjelaskan, rasio utang tertinggi atas PDB pernah terjadi di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Nilai utang pemerintah saat itu sebesar Rp 1.232,8 triliun dengan rasionya menjadi 88,7 persen terhadap PDB.

"Sudah sebesar 88,7 persen terhadap PDB, toh juga tidak seribut zaman Pak Jokowi yang hanya 27 persen atas PDB. Setelah masa itu, rasio utang pemerintah atas PDB mengalami tren penurunan. Sampai saat ini masih di bawah 30 persen. Rasio utang saat Pak Harto lengser sebesar 57,7 persen dari PDB, dilanjutkan zaman Pak Habibie menjadi 85,4 persen atas PDB. Bandingkan dengan saat ini yang hanya 27 persen," jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pengelolaan utang Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini membuat lembaga pemeringkat Moody's Investor Service menaikkan peringkat utang Indonesia.

Darmin menjelaskan, di antara negara-negara dengan peringkat investment grade, rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) termasuk yang paling rendah. Saat ini rasio utang tersebut berada di bawah 30 persen terhadap PDB Indonesia.

"Pertama, antara negara-negara investment grade, Indonesia itu negara yang paling rendah utangnya terhadap PDB-nya, di bawah 30 persen. Sementara yang di sana 39 persen atau 35 persen. Pokoknya mereka bilang di bawah rata-rata negara yang investment grade," ujar Darmin, di Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (14/4).

"Sehingga dianggap cukup. Ke depannya mereka masih percaya utang pun komentarnya sangat positif," tandasnya. [idr]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Utang
  3. Ekonomi Indonesia
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini