Indonesia dan Australia telah berhasil memperkuat Kerja Sama Penanggulangan Bencana melalui latihan gabungan berskala besar. Latihan yang dikenal sebagai Pacific Partnership 2026 ini baru saja berakhir pada 1 Agustus di Sibolga, Sumatra Utara. Kegiatan ini melibatkan partisipasi aktif dari militer dan lembaga sipil kedua negara, serta beberapa negara mitra lainnya.
Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan regional dalam menghadapi berbagai skenario bencana alam. Selain itu, kegiatan ini juga fokus pada peningkatan interoperabilitas antarlembaga yang terlibat. Sebanyak 113 spesialis dari Australia, Kanada, Jerman, dan Amerika Serikat turut serta dalam misi kemanusiaan ini, bekerja sama dengan otoritas Indonesia.
Kerja sama ini adalah upaya berkelanjutan untuk memberikan layanan kemanusiaan yang efektif di kawasan Indo-Pasifik. Latihan ini juga menjadi platform penting untuk membangun kapasitas respons bencana yang lebih kuat. Pengerahan kapal HMAS Choules dari Angkatan Laut Australia menjadi bagian integral dari latihan ini, melanjutkan partisipasi Australia dalam Pacific Partnership sejak tahun 2008.
Advertisement
Advertisement
Peran HMAS Choules dan Keterlibatan Lembaga Pemerintah
Selama misi Pacific Partnership 2026, HMAS Choules, kapal Angkatan Laut Australia, memainkan peran sentral. Kapal ini tidak hanya mendukung latihan di lapangan, tetapi juga menjadi tuan rumah bagi perwakilan penting dari berbagai lembaga pemerintah Indonesia.
Perwakilan dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) turut hadir. Pertemuan-pertemuan yang diadakan di atas kapal tersebut mengeksplorasi peluang untuk memperluas Kerja Sama Penanggulangan Bencana sipil bilateral.
Komandan HMAS Choules, Komandan Paul Hardman, menegaskan pentingnya peran kapal tersebut. Menurutnya, HMAS Choules memiliki kemampuan kritis bagi Angkatan Pertahanan Australia untuk mengerahkan personel dan peralatan penting dengan cepat di seluruh Indo-Pasifik.
Advertisement
Pengalaman dan hubungan yang dibangun melalui Pacific Partnership 2026 ini akan memastikan kesiapan yang lebih baik. Hal ini penting untuk menghadapi tantangan bersama di seluruh wilayah di masa depan, sebut Hardman.
Advertisement
Signifikansi Sejarah dan Strategi Pertahanan Australia
Latihan Pacific Partnership 2026 tidak hanya berfokus pada kesiapsiagaan masa depan, tetapi juga memiliki akar sejarah yang kuat. Kepala Operasi Gabungan Australia, Laksamana Madya Justin Jones AO, CSC, RAN, menyoroti sejarah panjang dukungan timbal balik antara kedua negara.
Jones menyatakan, "Australia dan Indonesia memiliki sejarah panjang saling membantu saat dibutuhkan." Ia menambahkan bahwa Sibolga memiliki makna sejarah khusus karena kedekatannya dengan dan dukungannya terhadap Operasi Sumatra Assist II pada tahun 2025.
Menurut Kedutaan Besar Australia, Pacific Partnership 2026 memajukan tiga prioritas utama di bawah Strategi Pertahanan Nasional Australia 2026. Prioritas tersebut meliputi penguatan kemitraan regional, peningkatan kesiapsiagaan bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana, serta peningkatan kesiapan personel.
Advertisement
Latihan ini secara strategis dirancang untuk mendukung stabilitas di seluruh kawasan Indo-Pasifik. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menjadi respons taktis, tetapi juga investasi jangka panjang dalam keamanan dan kesejahteraan regional.
Advertisement
Manfaat Latihan bagi Kesiapsiagaan Regional
Pemilihan Sibolga sebagai lokasi latihan Pacific Partnership 2026 membawa manfaat signifikan bagi kota tersebut dan kawasan sekitarnya. Kepala Kota Sibolga, Akhmad Syukri Nazry Penarik, menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan delegasi internasional.
Program ini memberikan pengalaman praktis yang sangat berharga bagi peserta dan masyarakat setempat. Kegiatan yang dilakukan mencakup simulasi respons bencana rumah sakit, pendidikan bencana berbasis sekolah, dan latihan darurat taktis.
Latihan darurat taktis ini bahkan melibatkan skenario tabrakan maritim. Hal ini menunjukkan cakupan dan kedalaman pelatihan yang diberikan untuk mempersiapkan berbagai kemungkinan bencana.
Advertisement
Melalui partisipasi aktif dalam latihan semacam ini, kapasitas lokal dan regional dalam menghadapi krisis dapat ditingkatkan secara substansial. Hubungan dan pengalaman yang dibangun akan menjadi fondasi penting untuk respons bencana yang lebih efektif di masa mendatang.
Sumber: AntaraNews