Maskapai penerbangan di Asia mulai meningkatkan tarif tiket menyusul lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang disebabkan oleh konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Kenaikan harga ini bahkan dilaporkan telah mencapai lebih dari dua kali lipat dalam waktu yang singkat.
Menurut Channel News Asia pada Jumat (27/3/2026), beberapa maskapai seperti Singapore Airlines (SIA) dan anak usahanya, Scoot, termasuk yang terkena dampak. Seorang juru bicara SIA mengungkapkan kepada Channel News Asia bahwa tarif penerbangan di jaringan mereka telah dinaikkan sebagai respons terhadap lonjakan harga avtur.
Tidak hanya SIA, maskapai lain di kawasan juga mengambil langkah serupa. Cathay Pacific yang berbasis di Hong Kong mengumumkan kenaikan biaya tambahan bahan bakar sebesar 34 persen yang akan berlaku mulai 1 April dan akan dievaluasi setiap dua minggu.
Sementara itu, Thai Airways juga menaikkan tarif tiket sekitar 10 hingga 15 persen. Bahkan, maskapai berbiaya rendah turut menyesuaikan harga. AirAsia X menyatakan bahwa kenaikan tarif ini bersifat sementara, sedangkan Cebu Pacific menaikkan harga tiket mereka sebesar 20 hingga 26 persen hingga bulan Mei mendatang.
Advertisement
Analis penerbangan memperkirakan bahwa kawasan Asia akan mengalami dampak yang paling signifikan. Ini disebabkan oleh fakta bahwa sebagian besar minyak dunia yang melalui Selat Hormuz, yang saat ini terganggu akibat konflik, ditujukan untuk pasar Asia.
Selat Hormuz sendiri berfungsi sebagai jalur pengiriman untuk sekitar 20 persen pasokan minyak global, dengan 84 persen di antaranya mengalir ke Asia. Selain itu, avtur yang digunakan dalam industri penerbangan adalah hasil olahan dari minyak mentah.
"Asia memperoleh sebagian besar kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah dan terdampak lebih besar dibanding wilayah lain akibat penutupan selat tersebut," ujar Mayur Patel dari OAG Aviation.
Lonjakan harga avtur juga sangat mencolok, di mana harga per barel melonjak dari sekitar USD 85 hingga USD 90 bulan lalu menjadi USD 150 hingga USD 200 saat ini. Bahkan, data dari IATA menunjukkan bahwa rata-rata harga mingguan avtur telah mencapai USD 197 per barel pada pekan yang berakhir pada 20 Maret.
Advertisement
Menurut laporan The New York Times, harga avtur mengalami kenaikan yang lebih cepat dibandingkan dengan minyak mentah, disebabkan oleh pasokan yang lebih terbatas.
Avtur memiliki standar kualitas yang lebih ketat, sehingga harus disimpan dalam tangki khusus dan tidak dapat disimpan dalam waktu lama tanpa mengalami penurunan kualitas. Hal ini berakibat pada cadangan yang menjadi lebih terbatas ketika terjadi gangguan pasokan.
Selain itu, tidak semua negara penghasil minyak mentah memiliki kapasitas pengolahan yang memadai. Misalnya, Korea Selatan merupakan eksportir avtur, tetapi tetap bergantung pada impor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Advertisement
Analis mengungkapkan bahwa kenaikan harga tiket pesawat hampir tidak dapat dihindari. Biaya bahan bakar menjadi penyumbang utama, mencapai sekitar 20 hingga 30 persen dari total biaya operasional maskapai.
"Maskapai mungkin harus menaikkan harga tiket antara 5 hingga 10 persen, atau lebih, jika tidak mampu mengoptimalkan biaya operasional," jelas Patel.
Selain itu, Singapore Airlines (SIA) menyatakan bahwa biaya bahan bakar mereka mencapai sekitar 30 persen dari total pengeluaran hingga akhir tahun 2025, menjadikannya sebagai komponen biaya terbesar dalam operasi mereka.
Meskipun demikian, kenaikan tarif yang diterapkan saat ini belum sepenuhnya dapat menutupi lonjakan biaya bahan bakar yang terjadi. Hal ini menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh maskapai dalam mengelola biaya operasional mereka di tengah fluktuasi harga bahan bakar.
Dengan kondisi ini, maskapai perlu mencari solusi efisien untuk mengurangi dampak dari kenaikan biaya tersebut agar tetap dapat bersaing di pasar penerbangan yang semakin ketat.
Advertisement
Untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan, maskapai penerbangan seringkali menambahkan biaya tambahan untuk bahan bakar (fuel surcharge) atau menaikkan harga dasar tiket mereka. Alfred Chua dari FlightGlobal menyatakan bahwa "kenaikan fuel surcharge biasanya menjadi langkah pertama sebelum menaikkan harga tiket secara keseluruhan." Selain itu, beberapa maskapai juga mulai mengurangi frekuensi penerbangan atau bahkan menghentikan rute tertentu, seperti yang dilakukan oleh Cebu Pacific.
Langkah-langkah ini diambil sebagai respons terhadap fluktuasi harga bahan bakar yang dapat mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Dengan menerapkan biaya tambahan, maskapai berusaha untuk tetap menjaga keseimbangan antara biaya operasional dan harga yang dibayar oleh penumpang. "Kenaikan fuel surcharge" menjadi salah satu strategi yang umum digunakan untuk mengatasi tantangan tersebut, sebelum akhirnya memutuskan untuk menaikkan harga tiket secara keseluruhan.
Advertisement
Maskapai penerbangan umumnya menerapkan strategi lindung nilai (fuel hedging) untuk mengatasi fluktuasi harga bahan bakar. Namun, metode ini sering kali dianggap kurang efektif karena biasanya hanya mempertimbangkan harga minyak mentah, bukan harga avtur.
"Banyak maskapai di Asia tidak melakukan hedging atau hanya melindungi harga minyak mentah," ungkap Patel.
Selain itu, perlindungan harga ini memiliki batasan waktu tertentu. Jika konflik yang mempengaruhi pasokan berlanjut, kemampuan maskapai untuk bertahan akan semakin terancam.
Cathay Pacific mengakui bahwa lonjakan harga bahan bakar dapat mengganggu operasional mereka jika tidak segera ditangani. Di sisi lain, Presiden Philippine Airlines, Richard Nuttall, menyatakan bahwa pasokan avtur saat ini masih mencukupi untuk beberapa bulan ke depan. Namun, setelah bulan Mei hingga Juni, ketidakpastian mulai muncul.
"Kami belum memiliki kepastian setelah itu, dan semua pihak mulai mencari sumber bahan bakar tambahan," ujarnya kepada CNBC.
Hal ini menandakan pentingnya strategi pengelolaan risiko yang lebih baik dalam industri penerbangan untuk mengatasi tantangan yang ada.