Tidak dipungkiri, masyarakat belum terbiasa dengan beragam produk jasa keuangan. Hanya 28,4 persen masyarakat kelas bawah yang memahami dan menggunakannya. Sementara untuk masyarakat kelas menengah ke atas, baru 51,6 persen. Itu diperoleh dari hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman Hadad mengakui, rendahnya penggunaan produk keuangan karena minimnya kesadaran menabung di masyarakat.
"Kita kurang menabung jadi banyak utangnya, perbankan dalam negeri diharapkan dapat meningkatkan layanan keuangan, ciptakan produk simpel yang untuk masyarakat kecil," ujarnya di Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (8/6).
Masyarakat perlu didorong untuk gemar menabung. Alasannya, menabung berkorelasi dengan peningkatan kesejahteraan. Dengan menabung, masyarakat akan dengan mudah mengenal produk keuangan. Dampak yang lebih luas, dengan menabung, roda perekonomian nasional terus berputar.
"Perbankan dan OJK terus mendorong gemar menabung sekecil apapun. Pertamanya nabung dulu, otomatis mereka akan kenal bank lebih jauh, seperti ambil kredit ke bank dan lainnya," jelas dia.
Demi tujuannya itu, OJK menggalakkan kampanye program Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai). Program ini memiliki beberapa produk yang akan ditawarkan salah satunya adalah Basic Saving Account, yaitu produk tabungan tanpa biaya administrasi bagi masyarakat kecil.
"Diharapkan produk tabungan ini selain mendidik masyarakat untuk mulai mengenal produk dan layanan jasa keuangan, juga mendorong masyarakat untuk terbiasa menabung. Produk ini diharapkan menjadi salah satu milestone dalam peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat," ungkapnya.
Selanjutnya, program yang ditawarkan melalui agen penjualan ini juga dapat menyediakan kredit/pembiayaan mikro bagi nasabah untuk tujuan produktif dan mendukung keuangan inklusif, dengan tingkat bunga yang murah. Sehingga dengan fasilitas kredit mikro ini masyarakat diharapkan diharapkan terhindar dari praktik rentenir.
"Laku Pandai diharapkan menjangkau komunitas-komunitas kecil di pedesaan, seperti ibu-ibu PKK, komunitas petani dan nelayan, kelompok-kelompok pemuda di desa, dan komunitas yang masih unbankable. Para Agen sekaligus diharapkan juga dapat menjadi garda terdepan literasi keuangan," papar dia.
Muliaman menambahkan, program Laku Pandai ini juga menyasar lingkungan sekolah-sekolah di berbagai daerah, khususnya daerah yang belum dapat terjangkau layanan keuangan. Ini penting agar kebiasaan menabung dan pengenalan terhadap produk dan layanan jasa keuangan dapat dimulai sejak usia dini.
"Laku Pandai sudah terdapat di beberapa propinsi seperti di Papua, Makassar, Medan, Grobogan, dan Palangkaraya. Agen laku pandai menjadi ujung tombak membuka akses keuangan dan meningkatkan literasi keuangan masyarakat memanfaatkan jaringan agen seperti kantor pos, para pedagang, hingga jaringan retail di pelosok pedesaan," tutup dia.