KKP Ungkap Biodiversitas Laut Maluku Barat Daya: Benteng Terakhir Keanekaragaman Hayati Dunia

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan bahwa Biodiversitas Laut Maluku Barat Daya merupakan benteng terakhir keanekaragaman hayati dunia, terbukti resilien di tengah ancaman perubahan iklim global.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
KKP Ungkap Biodiversitas Laut Maluku Barat Daya: Benteng Terakhir Keanekaragaman Hayati Dunia
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan bahwa Biodiversitas Laut Maluku Barat Daya merupakan benteng terakhir keanekaragaman hayati dunia, terbukti resilien di tengah ancaman perubahan iklim global. (AntaraNews)

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) baru-baru ini mengumumkan temuan penting terkait perairan Maluku Barat Daya. Perairan ini diidentifikasi sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati laut dunia. Temuan ini didapatkan dari hasil ekspedisi ilmiah yang dilakukan bersama World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia pada tahun 2025.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menyatakan bahwa perairan tersebut sangat resilien. Ia menjelaskan bahwa perairan ini mampu bertahan di tengah tekanan serius akibat perubahan iklim global. Pasokan nutrisi dari Laut Banda dan Samudera Hindia menjadi salah satu faktor kunci ketahanannya.

Penelitian ini mengukuhkan pentingnya Maluku Barat Daya sebagai ekosistem laut vital. KKP berkomitmen mendorong pengelolaan kawasan konservasi berbasis data ilmiah. Hal ini juga melibatkan masyarakat lokal untuk keberlanjutan sumber daya dan ekonomi, sejalan dengan implementasi ekonomi biru.

Ekspedisi yang digelar pada 3 Oktober hingga 3 November 2025 ini melibatkan banyak peneliti. Mereka berhasil membuktikan ketahanan perairan Maluku Barat Daya. Kawasan ini menjadi pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati laut global di tengah ancaman perubahan iklim.

Koswara menekankan bahwa hasil ekspedisi Romang–Damer 2025 sangat penting. Kontribusi ini mendukung pengambilan keputusan di tingkat pusat dan daerah. Perairan Maluku Barat Daya juga merupakan koridor migrasi utama bagi 24 spesies laut terancam punah.

Spesies tersebut termasuk paus biru, orca, hiu martil, beberapa jenis penyu, hingga dugong. Kualitas perairan Maluku Barat Daya masih relatif terjaga dengan baik. Kawasan laut ini mampu memasok nutrisi bagi spesies kunci serta menjadi rumah nyaman untuk sejumlah biota laut.

Salah satu penemuan paling menakjubkan adalah habitat dugong terbesar di Indonesia. Para peneliti menjumpai 32 ekor dugong dalam satu area. Populasi dugong dalam jumlah besar merupakan temuan langka, bahkan untuk ukuran dunia.

Ekosistem lamun di perairan ini berada dalam kondisi sangat baik. Tutupan lamun mencapai di atas 50 persen. Tim ekspedisi berhasil menemukan 9 dari 14 jenis lamun yang tercatat di Indonesia.

Data ekspedisi turut menunjukkan ekosistem terumbu karang di Kepulauan Romang dan Damer dalam kondisi sedang hingga baik. Rata-rata tutupan terumbu karang tertinggi mencapai 51,4 persen. Angka ini jauh di atas rata-rata regional yang hanya 34 persen.

Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa sebagian koloni karang berusia sekitar 100-200 tahun. Fakta ini membuktikan ekosistem perairan dangkal telah bertahan lama. Ekosistem tua ini memberikan manfaat ekologis tinggi seperti penjaga kawasan pantai dan daerah pemijahan hewan laut bernilai ekonomis.

Ekspedisi juga menyoroti peran vital masyarakat adat Maluku Barat Daya. Mereka memegang teguh prinsip keberlanjutan melalui kearifan lokal. Praktik Sasi dan larangan adat (pemali) terhadap perburuan spesies tertentu menjadi pilar utama. Ini menjaga keseimbangan ekosistem sejak zaman nenek moyang.

Pejabat Sementara Direktur Program Kelautan dan Perikanan Yayasan WWF Indonesia, Candhika Yusuf, mengapresiasi kondisi perairan ini. Ia menyaksikan terumbu karang yang sehat dan tangguh di saat banyak wilayah lain mengalami pemutihan karang.

Namun, kekayaan biodiversitas ini menghadapi ancaman serius. Praktik penangkapan ikan yang merusak oleh pihak luar menjadi perhatian utama. Isu sampah plastik dan ghost net juga turut mengancam kelestarian perairan. Candhika Yusuf menyerukan kolaborasi untuk memperkuat pengawasan berbasis masyarakat melalui Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas).

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi