Kenyamanan Pemudik Terganggu: Eskalator Mati dan Asap Rokok Jadi Sorotan di Terminal Leuwipanjang

Pemudik di Terminal Leuwipanjang mengeluhkan eskalator yang tidak berfungsi serta maraknya asap rokok, mengurangi kenyamanan perjalanan mereka saat momen Lebaran 2026.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kenyamanan Pemudik Terganggu: Eskalator Mati dan Asap Rokok Jadi Sorotan di Terminal Leuwipanjang
Pemudik di Terminal Leuwipanjang mengeluhkan eskalator yang tidak berfungsi serta maraknya asap rokok, mengurangi kenyamanan perjalanan mereka saat momen Lebaran 2026. (AntaraNews)

Terminal Leuwipanjang di Bandung menjadi pusat perhatian negatif bagi para pemudik yang melintas. Sejumlah fasilitas vital, seperti eskalator yang mati dan masalah asap rokok, menuai keluhan dari masyarakat pengguna. Kondisi ini secara signifikan mengurangi kenyamanan perjalanan mereka, terutama di tengah arus mudik Lebaran 2026 yang padat.

Julian (30), seorang pemudik dari Palembang, mengungkapkan kesulitannya saat harus berjalan di eskalator yang tidak berfungsi di Gedung A. Dengan membawa barang bawaan serta anak istrinya, ia merasa terbebani untuk mengakses bus kota melalui lantai dua. Momen penting seperti Lebaran seharusnya didukung oleh fasilitas yang berfungsi optimal untuk kelancaran arus pemudik.

Selain itu, masalah asap rokok juga menjadi sorotan serius dari penumpang bus dari Terminal Tipe A ini. Banyak pemudik terlihat merokok di area yang tidak semestinya, meskipun bukan di dalam gedung tertutup, sehingga mengganggu kenyamanan penumpang lain, terutama yang membawa anak-anak.

Pemudik seperti Julian merasakan langsung dampak eskalator yang tidak berfungsi di Gedung A Terminal Leuwipanjang. Eskalator tersebut seharusnya mempermudah akses penumpang menuju bus kota di lantai dua, namun kini hanya menjadi tangga biasa yang menyulitkan. Kondisi ini membuat perjalanan pemudik yang membawa banyak barang dan keluarga menjadi lebih berat dan kurang efisien.

Menanggapi keluhan ini, Kepala Terminal Leuwipanjang Asep Hidayat memberikan penjelasan mengenai matinya eskalator. Menurut Asep, eskalator sengaja dimatikan karena ketiadaan mekanik saat libur Lebaran 2026. Ia menambahkan bahwa eskalator kerap mati sendiri jika terlalu panas, dan vendor mekanik tidak tersedia selama periode libur panjang ini.

Asep Hidayat juga menjelaskan bahwa kewenangan untuk merekrut mekanik sendiri bukan berada di pihak terminal. Pengadaan mekanik eskalator merupakan wewenang Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Jawa Barat. Pihak terminal hanya bisa mengusulkan kebutuhan tersebut, karena anggaran tidak dikelola langsung oleh mereka, menjadikan masalah ini lebih kompleks untuk diselesaikan secara cepat.

Selain eskalator, masalah asap rokok juga menjadi perhatian utama para pemudik di Terminal Leuwipanjang. Rizky (38), pemudik tujuan Bekasi, menyayangkan banyaknya perokok di area umum yang tidak semestinya. Ia khawatir akan dampak buruk asap rokok terhadap anak-anaknya, sehingga harus bergegas menuju bus untuk menghindari paparan asap.

Rizky berharap ada penegakan aturan yang lebih tegas serta penyediaan area khusus merokok yang memadai. Kondisi saat ini dinilai mengurangi kenyamanan dan kebersihan terminal, dengan banyak puntung rokok berserakan. Hal ini menunjukkan perlunya tindakan nyata untuk menjaga lingkungan terminal tetap bersih dan sehat bagi semua pengguna.

Asep Hidayat mengakui adanya masalah asap rokok, meskipun terminal telah menyediakan ruang khusus di lantai dua dan area di shelter kantor Perusahaan Otobus (PO). Namun, ia mengakui bahwa masih banyak perokok yang tidak disiplin dan merokok di jalur bus atau penumpang. Pihak terminal akan menjadikan ini sebagai bahan evaluasi untuk menentukan titik area merokok yang lebih jelas dan jauh dari kerumunan, serta menambah tempat pembuangan sampah rokok.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi