Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan respons Indonesia terhadap kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan untuk meningkatkan impor produk-produk dari Amerika Serikat, khususnya di sektor pertanian yang belum diproduksi di dalam negeri, seperti kedelai dan gandum.
Airlangga menjelaskan bahwa arahan Presiden Prabowo tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa Indonesia tetap dapat memenuhi kebutuhan komoditas vital yang tidak diproduksi di dalam negeri, sambil memperkuat hubungan ekonomi dengan AS. Produk pertanian ini, yang sebagian besar berasal dari daerah-daerah yang menjadi konstituen Partai Republik di AS, seperti kedelai dan gandum, akan menjadi fokus utama impor.
“Pak Presiden, Pak Prabowo, mengarahkan kita untuk meningkatkan impor produk dari Amerika, terutama produk-produk pertanian yang memang tidak ada di Indonesia, seperti kedelai dan gandum dari negara penghasil pertanian yang kebetulan berada di daerah konstituen Partai Republik,” ujar Airlangga dalam acara Silaturahmi Ekonomi Bersama Presiden RI di Menara Mandiri, Jakarta Selatan, Selasa (8/4).
Selain itu, Indonesia juga mempertimbangkan untuk membeli produk rekayasa teknik (engineering products) serta energi, seperti LPG dan LNG, dari Amerika Serikat. Meski demikian, Airlangga memastikan bahwa pembelian produk ini tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena dilakukan melalui skema realokasi atau alih sumber pembelian dari negara lain.
"Peningkatan impor ini tidak akan menambah beban APBN karena kami melakukan realokasi pembelian, jadi tidak mengganggu anggaran negara," jelasnya.
Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap dapat memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dengan Amerika Serikat tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi domestik. Ini merupakan langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan hubungan bilateral yang saling menguntungkan.
Advertisement
Airlangga Hartarto Ungkap Perkembangan Negosiasi dengan AS
Airlangga juga mengungkapkan perkembangan terbaru mengenai proses negosiasi Indonesia dengan Amerika Serikat terkait tarif impor. Dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang semakin intens, berbagai negara, termasuk China dan Vietnam, telah mengambil kebijakan proteksionis untuk melindungi industri mereka. China misalnya, mengenakan tarif impor hingga 34% terhadap barang-barang dari AS. Vietnam juga telah meminta penundaan tarif untuk produk ekspor utama mereka, seperti Nike, meskipun belum ada respons positif dari AS.
Indonesia, di sisi lain, memilih pendekatan diplomatik dan aktif membuka akses pasar sambil memperkuat kerjasama dalam ASEAN. Airlangga menegaskan bahwa ASEAN menjadi penyumbang defisit perdagangan terbesar kedua bagi AS setelah China, yang menjadikan kerjasama regional ini sangat penting.
"Kami memilih jalur diplomasi ekonomi. Indonesia memfokuskan diri pada negosiasi yang konstruktif, dan terus memperkuat kerja sama intra-ASEAN sebagai respons terhadap kebijakan proteksionis global," ungkapnya.
Advertisement
Negosiasi sebagai Langkah Strategis
Keputusan Presiden Prabowo untuk memilih jalur negosiasi dalam merespons kebijakan tarif Trump didasari oleh kenyataan bahwa Amerika Serikat adalah mitra strategis Indonesia. Airlangga menyebutkan bahwa dalam berbagai rapat, Presiden Prabowo memberikan arahan untuk tidak mengambil langkah konfrontatif, melainkan mengutamakan diplomasi yang berbasis negosiasi.
"Indonesia memilih jalur negosiasi karena AS adalah mitra strategis. Kami tidak ingin terjebak dalam konfrontasi, melainkan mencari solusi yang saling menguntungkan melalui dialog dan kesepakatan bersama," tambahnya.
Sebagai langkah konkret, Indonesia juga sedang melakukan revitalisasi terhadap perjanjian perdagangan dan investasi, termasuk Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) yang sudah tidak diperbarui sejak 1996. Ini menjadi langkah penting untuk memperbarui hubungan dagang Indonesia-AS agar lebih relevan dengan kebutuhan ekonomi global saat ini.
Dengan langkah-langkah ini, Indonesia tidak hanya berupaya melindungi perekonomian domestik, tetapi juga berfokus pada peningkatan hubungan ekonomi yang lebih baik dengan negara-negara mitra strategis, termasuk Amerika Serikat.