Akademisi UIN Ar-Raniry: Transformasi Pertanian Aceh Krusial untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Akademisi UIN Ar-Raniry menegaskan transformasi pertanian Aceh dari tradisional ke modern sangat krusial. Langkah ini penting untuk memaksimalkan pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Hafas Furqani, menyoroti urgensi transformasi sektor pertanian. Beliau menyampaikan pandangannya pada Kamis (13/11) di Banda Aceh.
Menurutnya, sektor pertanian merupakan sumber utama pertumbuhan ekonomi Aceh yang berkelanjutan. Oleh karena itu, perubahan dari pertanian tradisional menuju modern sangat krusial bagi kemajuan daerah.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas serta nilai tambah produk pertanian. Transformasi ini juga akan menciptakan ekonomi Aceh yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Tantangan dan Potensi Sektor Pertanian Aceh
Prof. Hafas Furqani menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Aceh masih didominasi oleh sektor pertanian. Kondisi ini menunjukkan struktur ekonomi daerah yang masih sangat bertumpu pada sektor primer.
Dominasi ini mencerminkan dua sisi, yakni pertanian tetap menjadi penopang utama kehidupan masyarakat, terutama di pedesaan. Sektor pertanian juga menyerap sebagian besar tenaga kerja di Aceh.
Di sisi lain, kondisi ini mengindikasikan bahwa transformasi ekonomi Aceh menuju sektor sekunder dan tersier masih berjalan lambat. Sektor pertanian memiliki potensi besar, tetapi produktivitasnya masih rendah.
Tantangan klasik yang dihadapi meliputi keterbatasan infrastruktur irigasi, akses pasar, teknologi pertanian yang belum modern, serta kapasitas sumber daya manusia yang masih terbatas. Ini menjadi fokus utama dalam upaya transformasi pertanian Aceh.
Strategi Membangun Pertanian Modern dan Berdaya Saing
Dominasi sektor pertanian bukan semata hal negatif, melainkan sinyal bagi pemerintah daerah. Sinyal ini mendorong pemerintah untuk menata ulang strategi pembangunan ekonomi Aceh dengan lebih fokus.
Strategi tersebut harus berbasis keunggulan komparatif daerah. Sektor pertanian yang memiliki potensi besar menyumbang pertumbuhan ekonomi Aceh harus digarap seoptimal mungkin.
Dampaknya bisa lebih besar dengan mengintegrasikan ke sektor industri pengolahan atau hilirisasi. Hilirisasi ini memberikan nilai tambah untuk produk pertanian yang dihasilkan selama ini.
Prof. Hafas Furqani menyatakan, "Kita cenderung menerima nilai tukar pertanian yang rendah, karena belum mampu mengolah hasil pertanian menjadi barang-barang produksi lainnya."
Beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan adalah modernisasi dan teknologi pertanian. Pemerintah perlu memperkuat akses petani terhadap teknologi pertanian modern, bibit unggul, dan sistem pertanian cerdas (smart farming).
Sistem smart farming ini berbasis data dan inovasi. Selain itu, penguatan rantai nilai (value chain) juga penting, bukan hanya pada produksi bahan mentah.
Fokus juga harus pada hilirisasi produk pertanian melalui pengolahan, packaging, dan branding. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi.
"Pengusaha Aceh juga harus mendukung sektor pertanian dengan mengolah hasil pertanian di bumi Aceh, bukan langsung menjualnya ke Medan atau tempat lainnya," tegasnya.
Selanjutnya, kelembagaan petani dan akses pembiayaan berbasis keuangan syariah perlu diperkuat. Tujuannya agar petani dapat berproduksi secara berkelanjutan tanpa terjerat sistem pinjaman konvensional yang membebani.
"Kita berharap LKS di Aceh menjalin kemitraan dengan petani, nelayan dan pekebun. Di samping itu, perlu dikembangkan produk pembiayaan syariah khusus untuk mendukung pertanian di Aceh," tambahnya.
Pemerintah juga harus memastikan tersedianya infrastruktur logistik dan distribusi yang efisien. Ini penting agar produk pertanian Aceh dapat bersaing di pasar regional dan nasional.
PT PEMA sudah saatnya melirik sektor pertanian Aceh dan membuka pasar-pasar baru di dalam serta luar negeri. Langkah ini akan mendukung penuh transformasi pertanian Aceh.
Kolaborasi Riset dan Dampak Ekonomi Berkelanjutan
Kolaborasi riset dan inovasi sangat diperlukan dengan melibatkan perguruan tinggi dan lembaga riset di Aceh. Institusi seperti UIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala, serta kampus lainnya, memiliki peran vital.
Peran tersebut adalah dalam penelitian dan pengembangan inovasi pertanian. Inovasi ini harus berbasis kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan.
Prof. Hafas meyakini bahwa dengan arah kebijakan tersebut, sektor pertanian Aceh tidak hanya akan berfungsi sebagai sektor penyerap tenaga kerja. Sektor ini juga akan menjadi penggerak utama ekonomi daerah.
Ekonomi daerah yang dimaksud adalah yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. "Perekonomian yang ditopang pertanian biasanya lebih berkelanjutan, ketimbang sektor tambang atau industri yang cenderung abai dengan kelestarian lingkungan," pungkas Hafas Furqani, yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Sumber: AntaraNews