Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, secara tegas menyatakan bahwa sektor pertanian di Indonesia harus bertransformasi menuju era modern. Pernyataan ini disampaikan dalam agenda Pembekalan dan Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot yang berlangsung di Jakarta, Minggu. Transisi dari metode konvensional menjadi modern dinilai sebagai sebuah keniscayaan untuk menghadapi tantangan zaman dan meningkatkan produktivitas.
Perubahan pola pikir dan pendekatan dalam bertani menjadi fokus utama yang ditekankan oleh Kementan. Idha Widi Arsanti mengungkapkan, “Kita juga harus merubah mindset, merubah pertanian kita yang tadinya konvensional menjadi pertanian modern. Ini adalah suatu keharusan, ini adalah suatu keniscayaan.” Langkah ini bertujuan untuk menciptakan pertanian yang lebih efisien, berdaya saing, dan mampu memberikan nilai tambah signifikan bagi para pelakunya.
Modernisasi pertanian ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. Kementan menggarisbawahi pentingnya konsolidasi lahan, penggunaan teknologi canggih, serta manajemen kelompok yang solid. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi petani gurem, melainkan petani yang terorganisir dan mampu mengelola usaha pertanian dalam skala ekonomi yang lebih besar.
Advertisement
Advertisement
Salah satu pilar utama dalam mewujudkan pertanian modern adalah konsolidasi lahan. Kementan tidak lagi menginginkan adanya petani gurem yang hanya mengelola lahan 1-20 hektar. Sebaliknya, para petani didorong untuk saling berkonsolidasi dalam satu kelompok, sehingga mampu mengelola lahan sekitar 200 hektar. Skala usaha yang lebih besar ini diharapkan dapat mencapai efisiensi ekonomi dan memberikan kesejahteraan yang lebih optimal bagi para pelaku pertanian.
Peralihan menuju pertanian modern juga berimplikasi pada kewajiban penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern. Alsintan canggih seperti traktor, combine harvester (pemanen kombinasi), mesin dryer, hingga Rice Milling Unit (RMU/mesin penggiling padi) menjadi instrumen penting. Penggunaan teknologi ini krusial untuk menekan biaya produksi dan mengurangi kehilangan hasil panen, sehingga margin keuntungan petani dapat meningkat secara signifikan.
Kepala BPPSDMP Kementan, Idha Widhi Arsanti, menambahkan, “Dengan alsintan tersebut, maka biaya-biaya produksi, kehilangan hasil ini juga bisa ditekan, untuk kemudian bisa memberikan manfaat yang lebih tinggi lagi kepada para petani dan para pelakunya.” Investasi pada alsintan modern ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas produk pertanian, menjadikannya lebih kompetitif di pasar.
Advertisement
Advertisement
Selain aspek teknologi, pertanian modern juga sangat bergantung pada penggunaan varietas unggul dan manajemen kelompok tani yang terstruktur. Varietas unggul memastikan kualitas dan kuantitas hasil panen yang lebih baik, sementara manajemen kelompok tani atau Brigade Pangan memastikan seluruh proses berjalan optimal. Kelompok-kelompok ini diharapkan memiliki struktur yang jelas, pembagian tugas yang terdefinisi, dan setiap anggotanya menjalankan fungsinya dengan optimal.
Idha Widi Arsanti menjelaskan, “Mereka punya struktur, mereka punya pembagian tugas, dan semua yang bertugas di dalam kelompok tani atau Brigade Pangan ini ini harus optimal melakukan fungsinya masing-masing, baik di sektor produksi, alsintan, pengelolaannya, kemudian pemasaran dan juga administrasi dan keuangan.” Pendekatan ini memastikan bahwa setiap aspek dalam rantai nilai pertanian dikelola secara profesional, mulai dari produksi hingga pemasaran.
Aspek administrasi dan literasi keuangan juga menjadi perhatian penting bagi para petani di era modern ini. Jika dulu petani mungkin tidak melakukan pencatatan, kini mereka diwajibkan untuk transparan dan akuntabel dalam setiap transaksi. Hal ini penting karena petani modern diharapkan akan bertransaksi dan memperoleh omset miliaran rupiah, sehingga pengetahuan literasi keuangan dan digitalisasi menjadi sangat esensial.
Advertisement
“Kita wajibkan untuk kemudian harus transparan, akuntabel, dan kemudian karena mereka akan bertransaksi dan kemudian juga memperoleh omset miliaran rupiah, maka tentu saja kita berharap mereka memiliki pengetahuan literasi keuangan dan digitalisasi literasi keuangan,” pungkas Idha Widi Arsanti. Dengan pemahaman yang kuat tentang keuangan, petani dapat mengelola usaha mereka secara lebih profesional, merencanakan investasi, dan mengembangkan bisnis pertanian mereka ke level yang lebih tinggi.
Sumber: AntaraNews