Kupang, NTT – Akademisi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Roland E. Fanggidae, menyuarakan pentingnya optimalisasi program prioritas nasional dan potensi daerah. Langkah ini dianggap sebagai strategi krusial untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) NTT pada tahun 2026.
Dorongan ini muncul sebagai respons terhadap arahan Gubernur NTT, Melki Laka Lena, yang menargetkan peningkatan signifikan PAD guna meminimalisir ketergantungan daerah. Ketergantungan terhadap transfer anggaran dari pemerintah pusat menjadi perhatian utama.
Dengan target ambisius mencapai Rp2,8 triliun pada 2026 dari angka sebelumnya Rp1,297 triliun, pemerintah provinsi dihadapkan pada tantangan besar. Sinergi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diharapkan dapat mewujudkan target peningkatan PAD ini secara efektif dan berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Provinsi Nusa Tenggara Timur menghadapi tantangan signifikan dalam upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) menuju target Rp2,8 triliun pada tahun 2026. Sebelumnya, PAD Provinsi NTT tercatat sebesar Rp1,297 triliun. Ketergantungan daerah pada transfer anggaran dari pemerintah pusat masih sangat tinggi, bahkan mencapai 70 hingga 80 persen pergerakan roda ekonomi.
Dr. Roland E. Fanggidae menyoroti bahwa ketergantungan ini akan menjadi hambatan serius bagi pemerintah daerah pada tahun 2026. Terutama, hal ini disebabkan adanya rasionalisasi dan pengetatan anggaran dari pusat. Kebijakan optimalisasi PAD dinilai sebagai langkah strategis, meski membutuhkan proses panjang layaknya transformasi pertanian tradisional menuju hilirisasi.
Meskipun target peningkatan PAD 2026 tidak dapat dicapai dalam waktu singkat, kebijakan ini merupakan lompatan penting bagi perekonomian NTT. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus aktif mencari dan memetakan sumber pendapatan baru.
Advertisement
Advertisement
Untuk mencapai target Optimalisasi PAD NTT 2026, berbagai sumber pendapatan baru perlu digali secara maksimal. Dr. Roland E. Fanggidae mengidentifikasi beberapa potensi utama, termasuk optimalisasi pariwisata premium. Selain itu, pengembangan komoditas unggulan berbasis program One Village One Product (OVOP) juga menjadi fokus penting.
Pemetaan ulang potensi daerah dan peningkatan profesionalisme dalam pengelolaannya juga krusial. Program-program prioritas nasional harus dioptimalkan agar memberikan dampak langsung bagi ekonomi lokal. Contohnya, Program Makan Bergizi Gratis memiliki dana besar yang seharusnya mendorong perputaran ekonomi daerah.
Melalui program tersebut, pemenuhan kebutuhan seperti telur, daging ayam, dan sayur-mayur dapat dipasok dari petani lokal. Program OVOP juga berperan besar dalam mendorong kemandirian desa. Desa yang mampu mengelola potensi unggulan dan meningkatkan PAD akan memberikan dampak positif hingga tingkat kabupaten dan provinsi.
Advertisement
Advertisement
Aspek reformasi perpajakan daerah juga menjadi sorotan penting dalam upaya Optimalisasi PAD NTT 2026. Reformasi ini harus dilakukan secara serius, mulai dari penyempurnaan regulasi hingga sistem pemungutan yang lebih efektif. Penutupan celah kebocoran administrasi juga merupakan langkah vital untuk memastikan pendapatan daerah terkumpul maksimal.
Penguatan tata kelola dan kelembagaan perlu diperkuat melalui kebijakan berbasis kinerja. Salah satu caranya adalah menautkan penyaluran anggaran provinsi ke kabupaten/kota dengan capaian peningkatan PAD. Ini akan mendorong setiap daerah untuk lebih proaktif dalam mengelola pendapatannya.
Lebih lanjut, Roland menekankan perlunya reformasi birokrasi dan kelembagaan secara menyeluruh. Optimalisasi potensi daerah harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah masing-masing. Penguatan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), perbaikan iklim investasi, serta konsolidasi lintas sektor juga menjadi kunci keberhasilan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews