Seharusnya pekan itu menjadi jeda. Radit (36) sudah mengajukan cuti. Per 1 Mei 2026, ia akan dimutasi ke Tasikmalaya. Rencana sudah disusun, ia akan beristirahat dan berlibur bersama keluarga.
Namun Senin, 27 April 2026, rencana bergeser. Harum Anjarsari (30), istrinya, tetap berangkat kerja. Cuti yang semestinya dimulai harus ditunda karena ada acara halal bihalal kantor. Ia pamit seperti biasa, tanpa tanda apa pun yang berbeda.
Advertisement
Malamnya, Radit menunggu di rumah mereka di Tambun, Bekasi, ditemani anak bungsunya yang masih tiga tahun. Layar ponsel terus menyala, menunggu kabar dari Harum yang malam itu menjadi penumpang KRL Cikarang Line.
Beberapa saat sebelumnya, pesan terakhir datang dari dalam kereta. Ia memberi kabar tentang kereta yang ditumpangi menabrak sebuah mobil
"Sayang, ini keretanya nabrak mobil," kata Radit mengulang kembali pesan istrinya, Rabu (29/4/2026).
Radit, yang terbiasa naik kereta, tahu situasi seperti itu bisa berlarut. Ia menyarankan istrinya turun dan berbagi lokasi. Ia siap menjemput. Tapi perempuan itu memilih tetap menunggu.
Advertisement
Empat puluh menit berlalu tanpa kabar lanjutan. Radit berangkat dari Tambun menuju Bekasi Timur, membawa anaknya yang berusia tiga tahun.
Di sana, suasana sudah kacau. Orang-orang bergerombol, informasi simpang siur, tidak ada kepastian. Ia pulang sebentar ke Tambun, menidurkan anaknya. Malam itu belum selesai. Bersama dua temannya, Radit mulai menyisir beberapa rumah. Nama yang ia cari tak ditemukan.
Telepon dari ibu mertuanya membuka kemungkinan lain. Ia diminta menghubungi kembali nomor Harum. Radit menekan panggilan itu. Kali ini, suara yang menjawab bukan lagi istrinya, melainkan petugas pemadam kebakaran.
"Nah, saya suruh ke stasiun, ngobrol, handphone-nya sudah di saya. Cuma kan logikanya kalau kayak gitu orangnya masih di situ gitu. Tapi kalau waktu itu saya berdoanya ya handphone-nya aja yang di situ, jadi orangnya istri saya tuh sudah di rumah sakit," kata dia.
Radit mencoba merangkai harapan dari potongan kecil itu. Jika ponsel ada di sana, mungkin orangnya sudah dievakuasi. Radit bertanya tentang kondisi Harum. Namun, tak ada yang memberikan jawaban. Petugas itu tak berani memastikan, hanya menyarankan mencari ke rumah sakit.
Radit bertahan di sekitar stasiun hingga pagi. Dari malam tanpa kepastian, ia beralih menyusuri rumah sakit bersama teman-temannya. Hasilnya tetap tidak ada.
Advertisement
Informasi baru muncul dari RSUD. Sejumlah korban dibawa ke RS Polri. Radit berangkat bersama mertua dan rekan-rekannya. Di sana, proses sudah masuk tahap forensik. Tes DNA dilakukan terhadap ayah mertuanya. Radit menyebutkan ciri-ciri yang ia ingat, semuanya sesuai.
Menjelang 16.30 WIB, telepon kembali berdering. Kali ini bukan untuk mencari, melainkan memastikan. Radit tak lagi bertanya banyak. Ia memilih menerima.
“Kalau memang sudah takdirnya,” ujarnya.
Advertisement
Ia mengingat kembali sosok istrinya. Perempuan yang ia nikahi pada 2021. Dalam lima tahun pernikahan, ritme hidup mereka diisi perjalanan pulang pergi kerja, kadang bersama, kadang terpisah jalur.
"Hidupnya baik, makanya saya nikahin," ujar dia.
Harum bekerja sebagai leader di perusahaan skincare, memegang tanggung jawab untuk dua brand. Ia terbiasa berpindah moda transportasi seperti LRT, kereta, atau sesekali satu kendaraan bersama Radit jika arah kerja mereka sejalan.
Di rumah, dua anak laki-laki menunggu. Yang sulung berusia tujuh tahun, tinggal bersama keluarga. Tentang kecelakaan itu, Radit tak menampik perasaan yang datang. Marah. Kecewa. Semua bercampur dalam satu malam yang panjang.
“Tapi kalau kita menyalahkan kejadian ya buat saya enggak dewasa sebagai manusia, karena memang apapun sudah digarisin sama Tuhan. Saya nikah sama dia sudah digarisin tanggalnya berapa, punya anak juga tanggal berapa itu pasti sudah ditulis dan itu... meninggal pun pasti sudah ditulis," tandas dia.