Mantan pegawai Oriental Circus Indonesia (OCI) mendatangi Komisi XIII pada Rabu 23 April 2025. Rapat beragendakan pengaduan pelanggaran HAM terhadap eks pemain OCI.
Salah satu korban Anton bercerita penyiksaan yang dialaminya. Perbuatan sadis itu dilakukan bersaudara Jansen Manansang, Frans Manansang dan Tony Sumampau. Ketiganya anak Hadi Manansang.
Mereka dikenal dalam dunia konservasi dan pariwisata. Merupakan pendiri Taman Safari Indonesia. Puluhan tahun keluarga ini melakukan kekerasan dan ekspolitasi anak untuk bermain sirkus.
Anton mengingat dihajar habis-habisan terutama oleh Frans yang emosi wajahnya dicakar beruang. Nyawanya juga nyaris melayang akibat ancaman belati oleh Frans Manansang untuk membalaskan dendamnya.
Advertisement
Awal Mula Bersama Keluarga Manansang
Anton menceritakan pengalamannya sejak awal mula bertemu dengan keluarga Manansang. Hidup di bawah garis kemiskinan membuat istri Yansen pada saat itu menawarkan diri untuk merawat Anton sejak usia 8 tahun.
"Saya diambil oleh istrinya Pak Yansen dan saat itu memang ekonomi kita lagi agak berantakan dan keluarga kita juga sudah terpencar ke sana kemari," ucapnya.
Istri Yansen Manansang kala itu menjanjikan kehidupan yang lebih layak kepada keluarga Anton dan akan menyekolahkannya jika mau ikut dengan mereka.
"Saya diambil mereka, lalu saya sama seperti yang dijanjikan oleh teman-teman (saya) katanya 'Kamu ikut saudara ini bukan orang lain dia bilang. Saudara katanya nanti kamu di sana dipintarkan disekolahkan', katanya jadi nanti kalau sudah pintar sudah sekolah nanti saya kembalikan lagi ke orang tua kamu," sambungnya.
Alih-alih kehidupan yang lebih baik, Anton justru merasa ada yang tidak beres hingga sempat berniat kabur bersama sang kakak.
Ia dan sang kakak sempat kembali ke rumah dan dijemput lagi oleh istri Yansen. Pada saat itu, istri Yansen hanya mengajak Anton untuk ikut dengannya.
"Besok pagi Ibu Yansen datang lagi nah dia datang lagi dia menghampiri mama saya lalu dia bilang 'Udah dah kalau gitu yang kecil aja dah yang ikut saya.' Dia bilang gitu ya udah akhirnya saya ikut, satu malam saya di sana besok paginya saya langsung berangkat naik kereta api," tandasnya.
Advertisement
Disiksa saat Latihan Sirkus
Anton dibawa istri Yansen ke Cirebon untuk melihat dan berlatih sirkus. Kesehariannya hanya dilakukan dengan latihan hingga mendapat banyak penyiksaan.
"Kami suruh nonton saya juga enggak tahu apa yang harus diituin. Lalu udah gitu tidur sudah tidur besok langsung kami dilatih latihan dasar adalah handstand mulai dari 5 menit 10 menit sampai akhirnya sampai setengah jam sampai setengah jam pokoknya itu pokoknya latihan dengan keras betul-betul keras jatuh sabet pokoknya kita sampai geter-geter sampai keringetan," kata Anton.
Selama berada di pelatihan sirkus, Anton mengaku tak mendapat kesempatan apapun untuk berinteraksi dengan teman-temannya.
Bahkan ia hanya mendapat akses pendidikan selama 1 jam sehari. Sisanya ia habiskan untuk berlatih sirkus.
"Kita tidak pernah komunikasi, kita enggak pernah tanya satu dengan yang lain. Kita tidak ada kesempatan untuk begitu tidak ada sama sekali terus waktunya begitu hari-hari yaitu latihan makan sekolah 1 jam tidur latihan lagi begitu dan terus kami alamin," jelasnya.
Advertisement
Ditipu Keluarga Manansang
Salah seorang keluarganya sempat tak sengaja bertemu dengan Anton di salah satu atraksi sirkus. Pada saat itu pula, Anton berhasil mengungkap tabir tersembunyi yang dilakukan keluarga Manansang terhadap keluarganya.
Salah satu fakta yang berhasil diungkapnya adalah kabar bahwa sang ibunda telah lama meninggal dunia. Ia pun merasa sakit hati setelah mengetahui telah ditipu Manansang.
"Nomor satu yang saya tanya kepada saudara saya adalah 'Benar mama sudah mati?', 'Iya benar tahun 73 mama meninggal.' Terus 'Benar kamu orang saudara tidak ada yang mengurus yang ngurus itu dari Ibu Yansen? 'Oh enggak benar itu memang ada orang datang tapi saudara saya juga enggak kenal siapa itu tapi ada yang datang tiba-tiba kasih amplop begitu aja terus udah jalan," ucapnya.
Perlakuan buruk istri Yansen pun lantas membuatnya naik darah dan merasa dibohongi. Bahkan janji manis akan disekolahkan dan akan kembali di saat sudah pintar tidak pernah diterimanya.
"Jadi ini pemalsuan, saya bilang pembohongan jadi yang akhirnya terhitung waktu ke waktu saya mulai sakit hati udah mama saya dibohongin saya dibohongin dijanjikan dipintarkan disekolahkan nanti sudah pintar dibalikkan tapi apa yang mereka alamin itu saya yang alamin lebih parah," kata Anton.
Advertisement
Dendam Frans Manansang Akibat Cakaran Beruang
Anton menceritakan saat ia mulai meninggalkan lingkungan sirkus tersebut. Namun satu waktu ia diminta datang dan kembali bertemu Frans Manansang.
Keluarganya sempat melarang, namun ia tetap memberanikan diri datang untuk terakhir kalinya. Benar saja, ia dianiaya secara brutal oleh keluarga Manansang.
"Saya tahu saya akan mengalami penyiksaan saya hadapin mereka dan benar apa yang saya feeling ternyata benar saya di situ dihantem habis-habisan dengan tiga bersaudara mereka," ucapnya.
Mirisnya, pelaku penganiayaan yaitu Frans Manansang memukul Anton lantaran dendam usai wajahnya dicakar beruang yang biasanya diurus oleh Anton di sirkus.
"Dihantem habis-habisan terutama Pak Frans dia lebih sakit hati ke saya karena saat itu beruang yang saya main ya dia coba main padahal saya sudah bilangkan ke istrinya 'Jangan coba-coba main beruang karena bahaya'," tambahnya.
Frans Manansang merasa sakit hati akibat serangan tersebut. Akibatnya ia sampai mendapat 40 jahitan di wajah hingga melakukan operasi di Jepang.
"Karena saya tahu sifat Pak Frans itu orangnya gengsi dan tensinya tinggi. Dia coba main beruang apesnya dia kena cakar mukanya yang saya dengar itu sampai 40 sekian jahitan dan mereka terus lari masih ke Jepang bisa operasi," sambungnya.
Frans Manansang juga sempat mengancam Anton dengan belati usai emosinya tak tertahan. Namun niat tersebut tak sampai dan hanya mengusir Anton dari area Pondok Indah.
"Saat itu saya digebukin habis-habisan dan saya terakhir dengar Pak Frans bilang 'Tolong ambil belati saya mau belek mukanya.' Saat itu saya sudah mulai berpikir kalau memang benar-benar sampai itu terjadi saya akan loncat dari Pondok Indah."
"Tapi itu tidak terjadi tapi akhirnya setelah babak belur habis-habisan saya dibikinin satu surat pernyataan bahwa orang yang namanya ini-ini sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Pondok Indah," pungkasnya.