Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah Terbaru 2025, Segera Sambut Idul Adha
Berikut khutbah jumat bulan Dzulhijjah terbaru 2025 segera menyambut Idul Adha.
Khutbah Jumat di bulan Dzulhijjah menjadi momentum penting bagi umat Islam. Khutbah ini hadir sebagai pengingat akan kemuliaan bulan tersebut. Selain itu, khutbah juga membahas makna mendalam dari ibadah haji dan kurban. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
Biasanya, khutbah Jumat di bulan Dzulhijjah, terutama menjelang Idul Adha, berfokus pada tema-tema keagamaan. Tema-tema ini sangat relevan dengan momentum tersebut. Berikut adalah poin-poin penting yang sering dibahas dalam khutbah Jumat di bulan Dzulhijjah.
Salah satu poin pentingnya adalah menekankan kemuliaan Dzulhijjah. Dzulhijjah adalah salah satu bulan haram (suci) dalam Islam. Terutama pada sepuluh hari pertamanya. Hari-hari tersebut dianggap paling utama sepanjang tahun.
Bagaimana khutbah jumat bulan Dzulhijjah terbaru 2025 siap menyambut Idul Adha? Melansir dari berbagai sumber, Jumat (30/5), simak ulasan informasinya berikut ini.
Keistimewaan Dzulhijjah dan Hikmahnya
Menteri Agama RI menetapkan awal Dzulhijjah 1446 H jatuh pada Rabu, 28 Mei 2025. Dzulhijjah merupakan bulan ke-12 atau terakhir dalam penanggalan Hijriah. Dzulhijjah termasuk bulan yang dimuliakan dalam Islam, bersama tiga bulan lainnya yakni Dzulqa'dah, Muharram, dan Rajab.
Para ulama sering mengingatkan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah untuk diisi dengan amal saleh. Dasar anjuran ini ialah hadis Rasulullah SAW bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah termasuk waktu yang disukai Allah. Hal tersebut merupakan bagian dari keistimewaan bulan Dzulhijjah.
Naskah khutbah Jumat berjudul 'Mengulik Keistimewaan Bulan Dzulhijjah dan Hikmahnya' ini dapat disampaikan khatib pada Jumat, 30 Mei 2025. Khutbah ini diharapkan bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman tentang keutamaan bulan Dzulhijjah.
Contoh Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah: Bulan Dzulhijjah dan Keutamaan 10 Hari Pertamanya
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan. Hadirin yang berbahagia. Saat ini, kita berada pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah 1446, hari-hari yang dicintai dan dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tahun ini, tanggal satu Dzulhijjah jatuh pada hari Rabu, 28 Juni 2025. Pada hari Jum’at ini, berarti kita berada pada hari ketiga Dzulhijjah.
Pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, kita sangat dianjurkan untuk melakukan dan memperbanyak amal-amal kebaikan. Amal-amal kebaikan yang dilakukan di dalamnya, dilipatgandakan pahalanya oleh Allah ta’ala. Marilah kita isi hari-hari yang mulia ini dengan berbagai kebaikan dan ketaatan kepada Allah ta’ala. Di antaranya, puasa mulai hari pertama sampai hari kesembilan, terutama puasa pada hari kesembilan yang disebut dengan puasa Arafah, berbakti kepada kedua orang tua, memperbanyak silaturahim kepada sanak saudara, ziarah kubur, bertobat dari semua dosa, lebih giat lagi menghadiri majelis-majelis ilmu, dan memperbanyak membaca al-Qur’an.
Kemudian juga memperbanyak zikir, tasbih, tahmid, takbir dan tahlil, memperbanyak doa, memperbanyak shalat-shalat sunnah, memperbanyak sedekah dan lain sebagainya. Hadirin rahimakumullah. Begitu mulianya sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sampai-sampai Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dalam al-Qur’an dengan hari-hari itu dalam firman-Nya yang artinya,
"Demi waktu fajar. Demi sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, demi hari arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) dan demi hari raya Kurban," (QS al-Fajr: 1-3)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bukhari, at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah dari sahabat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
"Tidak ada hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama daripada jihad di jalan Allah?" Rasulullah menjawab, “Termasuk lebih utama dibandingkan jihad di jalan Allah kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan sesuatu apapun dari jiwa dan hartanya karena ia mati syahid di medan jihad,” (HR al-Bukhari, Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, terdapat hari yang paling utama sepanjang tahun, yaitu hari Arafah atau hari kesembilan Dzulhijjah yang tahun ini jatuh pada hari kamis, 5 Juni yang akan datang. Pada hari Arafah, kita lebih ditekankan lagi untuk melakukan berbagai kebaikan serta berpuasa dan memperbanyak doa pada hari itu. Ketika ditanya mengenai puasa Arafah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab yang artinya:
"Puasa Arafah memiliki keutamaan menghapus dosa-dosa (kecil) setahun yang telah berlalu dan setahun yang akan datang,” (HR Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan hari arafah dalam sabdanya yang artinya,
"Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba dari neraka sebanyak yang Ia bebaskan pada hari arafah,” (HR Muslim).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Bahkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Malik dalam al-Muwaththa’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
"Tidaklah syetan terlihat lebih terhina, lebih terusir, lebih ternista dan lebih marah kecuali pada hari Arafah,” (HR Imam Malik).
Hal itu dikarenakan begitu banyak rahmat Allah yang turun pada hari Arafah dan begitu banyak pengampunan dosa yang Allah anugerahkan kepada para hamba-Nya pada hari itu. Hal-hal semacam ini tentu sangat dibenci oleh syetan. Hari Arafah juga adalah hari mustajabnya doa sebagaimana disabdakan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,
"Doa yang paling utama adalah doa pada hari Arafah dan sebaik-baik yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah kalimat tauhid,"
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Bagi yang akan berkurban, disunnahkan mulai awal Dzulhijjah sampai dengan hewan kurbannya disembelih untuk tidak memotong rambut dan kukunya sebagaimana hal itu dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Terakhir, kami sampaikan bahwa malam Hari Raya Idul Adha juga adalah salah satu malam yang mustajab untuk memanjatkan doa kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagaiman hal itu ditegaskan oleh Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm yang artinya,
"Telah sampai berita pada kami bahwa dulu pernah dikatakan," Sesunguhnya doa dikabulkan pada lima malam, yaitu malam jum'at, malam Hari Raya Idul Adlha, malam Hari Raya Idul Fithri, malam pertama bulan Rajab dan malam nishfu Sya'ban."
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
Contoh Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah: Meneladani Semangat Pengorbanan dalam Ibadah Kurban
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Tidak bosan-bosannya khatib mengajak kepada seluruh jamaah, mari kita senantiasa meningkatkan dan menguatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Barometer dari ketakwaan adalah kemampuan kita untuk sekuat tenaga menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya. Posisi kita berada di jalan yang telah digariskan oleh Allah swt, dengan tidak belok ke kanan dan ke kiri ini, akan menjadikan kita pada posisi tengah dan kuat sehingga mampu menghantarkan kita pada tujuan yang benar dan hakiki dalam kehidupan di dunia. Ketakwaan ini juga yang telah ditegaskan oleh Allah SWT sebagai bekal yang paling baik dalam menjalani kehidupan. Allah berfirman yang artinya:
“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!”. (QS. Al-Baqarah: 197)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada kesempatan khutbah kali ini, khatib mengajak kita semua untuk kembali merenungkan nikmat-nikmat dan rezeki yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT dalam kehidupan. Segala nikmat ini adalah nyata adanya dan telah ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Kautsar ayat 1 yang artinya,
"Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.”
Nikmat yang telah diberikan ini tidak boleh menjadikan kita lupa sehingga jauh dari Allah SWT. Sebaliknya, nikmat ini harus mampu dijadikan sebagai sarana untuk beribadah dan membawa kita lebih dekat kepada Allah SWT. Lalu bagaimana kita mendekatkan diri kepada Allah? Pertanyaan ini dijawab di ayat selanjutnya yakni ayat kedua surah Al-Kautsar yang artinya,
“Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Jelas dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya dengan dua bentuk ibadah. Pertama adalah sholat yang memang sudah menjadi kewajiban dan rutinitas harian kita dengan melaksanakannya lima waktu setiap hari, yakni Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Kedua adalah dengan berkurban yang merupakan ibadah tahunan dan hanya bisa dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah. Pada bulan Dzulhijjah ini kita diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban di Hari Raya Haji atau Idul Adha pada tanggal 10 Dzuhijjah atau tiga Hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah.
Dari sisi bahasanya sendiri, kurban berasal dari bahasa Arab, yakni qaruba – yaqrubu – qurban yang artinya dekat. Untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui kurban, kita dituntut berkorban menyisihkan harta kita untuk membeli hewan kurban dan memberikannya kepada orang lain. Tentu kita harus benar-benar ikhlas dan menata hati dengan benar dalam berkorban dengan berkurban ini. Jangan sampai pengorbanan kita dengan mengambil harta yang kita miliki tidak membuahkan hasil dan jauh dari hakikat ibadah kurban itu sendiri yakni mendekatkan diri pada Allah. Jangan sampai kita salah niat, sehingga kita malah akan semakin jauh dari Allah karena niatan yang salah seperti ingin dipuji orang dan niatan-niatan lainnya yang tidak lillahi ta’ala.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Menyembelih hewan kurban menurut Imam Malik dan Imam al-Syafi’i adalah kesunnahan yang diutamakan atau sunnah muakkadah. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban adalah wajib bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan bepergian. Nabi Muhammad SAW pun telah memberi contoh dengan tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat.
Sebagai sebuah kesunnahan yang ditekankan dan rutin dilakukan oleh Nabi Muhammad, ibadah kurban memiliki keutamaan tersendiri sebagaimana hadis Nabi dari Siti Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah yang artinya,
"Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.”
Keutamaan lain dari ibadah kurban adalah sebuah ibadah yang memiliki dua dimensi, yakni vertikal dan horizontal. Dimensi vertikal artinya ibadah yang ditujukan hanya kepada Allah SWT, sementara dimensi horizontal adalah ibadah sosial berupa berbagi rezeki untuk membahagiakan orang lain. Ketika kita mampu membahagiakan orang lain, maka kita pun akan merasa bahagia dan pada akhirnya kebahagiaan bersama juga akan mudah terwujud sehingga kehidupan di tengah-tengah masyarakat pun akan bahagia dan damai.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dengan agungnya makna dan tujuan dari ibadah kurban ini, maka sudah selayaknya kita berusaha untuk dapat melaksanakannya sehingga kita akan semakin dekat kepada Allah. Tentu kita tidak ingin menjadi hamba yang kufur nikmat dan terputus rahmat Allah karena kita tidak berkurban padahal sebenarnya kita mampu. Mari kita bersama-sama menjadi hamba yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintah-perintahnya. Jangan sampai kita pada kondisi yang disebutkan dalam surah Al-Kautsar ayat 3 yang artinya,
"Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)"