Gara-gara Nintendo Switch Disita, Seorang Siswa Nekat Aniaya Guru Hingga Pingsan

Siswa yang duduk dibangku Sekolah Menengah Atas ini tega aniaya gurunya hingga pingsan.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Gara-gara Nintendo Switch Disita, Seorang Siswa Nekat Aniaya Guru Hingga Pingsan
Gara-gara Nintendo Switch Disita, Seorang Siswa Nekat Aniaya Guru Hingga Pingsan (© 2023 merdeka.com)

Seorang remaja berumur 17 tahun melakukan kekerasan pada seorang guru.

Persoalannya karena Nintendo Switch miliknya disita oleh sekolah. Dia merupakan siswa Sekolah Menengah Atas di Florida.

Siswa yang bernama Brenda Depa, diketahui memukul seorang guru yang bernama Matanzas Joan Naydich.

Ia nekat melakukannya sampai gurunya terjatuh, setelah itu menendang dan memukul punggung serta kepalanya sebanyak lebih dari 12 kali. 

Dok. Istimewa
Unsplash

Kejadian ini terungkap melalui kamera CCTV yang ada di sekolah tersebut. Rekaman ini kemudian menjadi viral dan menyebar dengan cepat di jagat maya. Setelah kejadian ini, Depa dibawa ke kursi pengadilan untuk di sidang pada hari Senin, 1 November lalu. 

Melalui sidang tersebut, dilaporkan bahwa Depa merupakan penderita autis. Sehingga, hukuman yang diberikan masih dipertimbangkan, dan akan ditentukan oleh Hakim Terrence Perkin pada bulan Januari mendatang. 

Dalam hal ini, Perkins, selaku hakim, mengatakan bahwa ia telah memperkirakan bahwa Depa paling minimal akan mengalami hukuman percobaan atau jangka waktu maksimal hukuman 30 tahun.  

“Tidak ada pembelaan,” jelas Depa, ketika ditanya oleh hakim Perkins mengenai pembelaan atas tuduhan kejahatan yang ia lakukan. 

Dok. Istimewa
© 2023 merdeka.com

Mengutip The New York Post, Jumat, (02/11), sidang yang dijadwalkan pada bulan Januari mendatang juga akan membahas dari segi keterangan saksi baik dari penuntut maupun pembela. 

Dok. Istimewa
© 2023 merdeka.com

Namun, mengingat Depa dinyatakan sebagai penderita autis, maka pengacaranya mengatakan bahwa pelaku tidak kompeten untuk diadili secara hukum. Mengetahui hal ini, Naydich menolak dan tidak ingin Depa diberikan keringanan hukuman. 

“Saya berharap adanya keadilan mengenai masa hukuman. Hal ini akan mencegah orang lain mengalami trauma selama penyembuhan fisik yang mempengaruhi kehidupannya sehari-hari,” kata Naydich. 

Walau begitu, selama sidang belum dimulai maka hukuman Depa masih terus dikaji, terlebih pihak jaksa penuntut belum memberikan isyarat atau tanda mengenai kesediaannya untuk memberikan keringanan hukumannya

Rekomendasi