Negara yang Berpotensi Kena Dampak Tabrakan Asteroid 2024

Tabrakan asteroid dengan Bumi dapat menghancurkan sebuah kota, mengeluarkan energi setara delapan megaton TNT.

Switzy Sabandar
Oleh Switzy Sabandar - Reporter
Negara yang Berpotensi Kena Dampak Tabrakan Asteroid 2024
65 juta tahun lalu batu asteroid raksasa menghantam Bumi dan memicu punahnya spesies dinosaurus. Tapi ternyata, itu bukan yang terdahsyat. (© 2025 Liputan6.com)

National Aeronautics and Space Administration (NASA) telah merilis daftar negara yang mungkin terkena dampak dari tabrakan asteroid 2024 YR4 yang diperkirakan akan terjadi pada 22 Desember 2032.

Asteroid ini memiliki kemungkinan 1 banding 43 untuk menabrak bumi dalam beberapa tahun ke depan, yang menunjukkan bahwa risiko tersebut tidak bisa diabaikan.

Laporan dari NASA menunjukkan bahwa probabilitas tabrakan asteroid ini meningkat dari 1,2 persen menjadi 2,3 persen. Menurut informasi yang diperoleh dari laman NASA pada Selasa (18/02/2025), ukuran asteroid 2024 YR4 diperkirakan berkisar antara 40 hingga 90 meter.

Jika tabrakan ini terjadi, energi yang dilepaskan dapat menghancurkan sebuah kota, dengan kekuatan setara delapan megaton TNT. Energi tersebut bahkan lebih dari 500 kali lipat dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima.

Peneliti senior dari Catalina Sky Survey NASA, David Rankin, telah memetakan "koridor risiko batu antariksa" untuk menentukan wilayah yang kemungkinan akan terdampak.

Dengan menggunakan peta koridor risiko tersebut, diperkirakan asteroid 2024 YR4 akan bertabrakan di jalur yang meliputi bagian utara Amerika Selatan, melintasi Samudra Pasifik, Asia selatan, Laut Arab, dan Afrika.

Lokasi tabrakan asteroid ini akan sangat bergantung pada rotasi bumi. Rankin menyebutkan bahwa beberapa negara yang mungkin menjadi sasaran tabrakan antara lain Ethiopia, Sudan, Bangladesh, India, dan Pakistan.

Selain itu, Ekuador, Kolombia, Venezuela, dan Nigeria juga berpotensi terkena dampak. Besarnya asteroid akan berpengaruh pada dampaknya terhadap objek yang ditabrak. Jika asteroid 2024 YR4 mencapai ukuran maksimalnya, ledakannya dapat memengaruhi area hingga 50 km dari titik tabrakan.

Kecepatan asteroid saat memasuki atmosfer bumi juga berperan penting dalam potensi kerusakan, dengan kecepatan sekitar 17 km/detik.

Sebagai contoh, pada tahun 1908, sebuah asteroid berdiameter 50-80 meter dengan kecepatan 15-30 km/detik menghantam sungai Podkamennaya Tunguska di Rusia, menyebabkan sekitar 80 juta pohon di area seluas 830 mil persegi (2.150 km persegi) rata dengan tanah.

Kemudian, pada tahun 2013, asteroid berukuran 20 meter meledak di udara setelah memasuki atmosfer bumi di Chelyabinsk, Rusia, melepaskan energi 20 hingga 30 kali lebih kuat dari bom atom dan merusak sekitar 7.000 bangunan serta melukai lebih dari 1.000 orang.

Para peneliti memperkirakan bahwa jika asteroid 2024 YR4 memiliki ukuran maksimal 90 meter, dampaknya bisa serupa dengan ledakan asteroid di Tunguska.

Berdasarkan informasi dari laman SciTechDaily pada Rabu (19/2), asteroid 2024 YR4 masih menyimpan banyak misteri, dan banyak informasi tentangnya yang belum diketahui. Astronom berencana untuk mempelajari asteroid ini dengan lebih mendetail ketika mendekati bumi pada jarak sekitar 8 juta km pada tahun 2025.

Saat ini, asteroid 2024 YR4 sedang diamati oleh teleskop darat yang tergabung dalam International Asteroid Warning Network, dan observasi ini akan berlangsung hingga April, sebelum asteroid menjadi terlalu redup untuk dilihat. Diperkirakan, asteroid ini baru akan terlihat kembali pada Juni 2028.

Teleskop James Webb yang berada di luar angkasa

NASA merencanakan pemanfaatan Teleskop Luar Angkasa James Webb pada bulan Maret 2025 untuk meningkatkan ketepatan dalam memperkirakan jalur orbit asteroid.

Observasi ini bertujuan untuk memberikan informasi lebih akurat mengenai ukuran asteroid yang saat ini diperkirakan memiliki diameter antara 40 hingga 90 meter.

Sampai saat ini, risiko tabrakan dengan asteroid 2024 YR4 sangat tinggi, sehingga asteroid ini menjadi yang teratas dalam daftar Risk List European Space Agency (ESA) dan Sentry Risk Table milik NASA.

Meskipun demikian, para ilmuwan optimis bahwa dengan pengamatan yang lebih mendalam, risiko ini dapat diperbarui dan kemungkinan tabrakan bisa berkurang atau bahkan dihilangkan sepenuhnya.

Sebelumnya, astronom sering menemukan objek yang berada dekat dengan bumi, yang dikenal sebagai Near-Earth Objects (NEOs). Namun, probabilitas terjadinya tabrakan dapat berubah seiring dengan pembaruan data yang diperoleh.

Banyak asteroid yang sebelumnya dianggap berisiko tinggi akhirnya dikeluarkan dari daftar ancaman setelah dilakukan penelitian lebih lanjut. Di sisi lain, ada kemungkinan bahwa angka probabilitas tabrakan juga bisa meningkat.

Para ilmuwan menggunakan dua skala utama untuk mengevaluasi potensi bahaya dari asteroid, yaitu Palermo Technical Impact Hazard Scale dan Torino Impact Hazard Scale.

Skala-skala ini berfungsi untuk menentukan tingkat ancaman yang dapat ditimbulkan oleh asteroid yang mendekati bumi. Palermo Technical Impact Hazard Scale menilai kemungkinan dampak asteroid dengan mempertimbangkan risiko latar belakang dari tabrakan objek luar angkasa lain yang memiliki ukuran serupa.

Dalam skala ini, angka 0 menunjukkan bahwa ancaman dari asteroid tersebut setara dengan risiko rata-rata. Sementara itu, angka positif menunjukkan risiko yang lebih tinggi dan angka negatif menunjukkan risiko yang lebih rendah. Dengan skor -0.32, asteroid 2024 YR4 masih termasuk dalam kategori "di bawah risiko latar belakang".

Ini berarti bahwa meskipun kemungkinan tabrakan meningkat menjadi 2,3 persen, berdasarkan data yang ada saat ini, asteroid ini masih dianggap tidak menimbulkan ancaman serius.

Rekomendasi