Langkah PNM Berdayakan Pembatik Perempuan di Hari Batik Nasional

PNM memanfaatkan momentum Hari Batik Nasional dengan program klasterisasi batik di Jambi, Madiun, Magelang, hingga Lamongan. Ini penjelasan direksinya.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Langkah PNM Berdayakan Pembatik Perempuan di Hari Batik Nasional
Ilustrasi Batik. (Istimewa)

Momentum Hari Batik Nasional dimanfaatkan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM untuk memperkuat pelestarian batik melalui pemberdayaan perajin perempuan. Upaya ini dijalankan lewat program klasterisasi yang mengonsolidasikan para pelaku batik agar berkembang bersama.

Program klasterisasi hadir di berbagai wilayah Indonesia, antara lain Jambi, Madiun, Magelang, hingga Lamongan. Pola pendampingan berkelompok tersebut menyatukan pengusaha batik sejenis di satu daerah untuk bertumbuh secara kolaboratif melalui pembekalan terarah.

Pendampingan disusun sesuai kebutuhan lokal perajin, mencakup pelatihan keterampilan, mentoring usaha, hingga penyediaan akses pasar. Inisiatif ini menjadi cara PNM mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan batik lewat penguatan ekosistem perajin.

Direktur Utama PNM, Kindaris, menegaskan komitmen tersebut. "Kami ingin ikut menjaga batik lewat para pembuatnya. Melalui pembiayaan dan program pemberdayaan melalui klasterisasi, ibu-ibu para pembatik kami kumpulkan agar bisa belajar, berkarya, dan tumbuh bersama, sehingga batik tetap lestari dan usaha mereka semakin kuat," ujar Kindaris dalam keterangan tertulis, Jumat (2/10/2026).

Implementasi di lapangan disesuaikan karakter setiap wilayah. Di Kelurahan Danau Teluk, Kota Jambi, klasterisasi berisi rangkaian pelatihan membatik, pendampingan, dan penyediaan akses pasar. Adapun di Desa Uteran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, pelatihan pembuatan batik ecoprint digelar untuk memicu kreativitas dan memperluas wawasan perajin.

Kampung Binaan Batik di Magelang, Kolaborasi di Momen Hari Batik Nasional

Di Desa Gandusari, Magelang, PNM mendirikan kampung binaan batik yang dilengkapi tempat pelatihan serta sarana pengunci warna. Para nasabah mendapat bimbingan langsung dari instruktur untuk menguasai teknik, dari batik tradisional hingga ecoprint, disertai pelatihan pewarnaan demi menjaga mutu produk. Fasilitas ini juga terbuka untuk dimanfaatkan masyarakat umum di luar nasabah.

"Lewat klaster, para pembatik tidak lagi bekerja sendiri-sendiri. Mereka belajar bersama, memakai fasilitas bersama, dan saling membantu kalau ada kesulitan. Semangat gotong royong seperti inilah yang kami terapkan dalam pembinaan nasabah PNM secara berkelompok, karena kami yakin usaha yang dijalani bersama akan lebih mudah berkembang," tambah Kindaris.

Inisiatif klasterisasi ini menegaskan dukungan PNM terhadap peringatan Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober, sejak batik Indonesia diakui sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO. Bagi PNM, melestarikan batik berawal dari memastikan para perajin di belakangnya tetap berdaya.

Rekomendasi