Masih Banyak Perusahaan Bayar Uang Tebusan ke Hacker saat Mendapat Ancaman

Berdasarkan survei Fortinet, masih banyak perusahaan yang membayar tebusan; hampir tiga perempat dari responden melakukan suatu jenis pembayaran sebagai tebusan.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Masih Banyak Perusahaan Bayar Uang Tebusan ke Hacker saat Mendapat Ancaman
Ilustrasi topeng hacker. ©2022 Merdeka.com

Survei Fortinet menemukan sebanyak 78 persen perusahaan merasa siap Menghadapi serangan ransomware, meskipun setengahnya masih menjadi korban.

Dapat diungkapkan, bahwa terdapat kesenjangan yang kian besar antara level kesiapan responden dengan strategi dan kemampuan mereka untuk menghentikan serangan ransomware.

Tantangan selanjutnya adalah kurangnya kejelasan dalam cara mengamankan diri terhadap ancaman, sebagai akibat dari kurangnya kesadaran dan pelatihan pengguna, serta tidak adanya strategi rantai komando yang jelas dalam menghadapi serangan.

Menurut John Maddison, EVP of Products and CMO, Fortinet, hal ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk beralih dari sekadar pendeteksian ke respons secara real time.

"Sangat penting untuk menerapkan pendekatan menyeluruh terhadap keamanan siber (cybersecurity) yang lebih dari sekadar berinvestasi pada teknologi penting, serta memprioritaskan pelatihan," ujar dia.

Survei juga mendapati bahwa masih banyak perusahaan yang membayar tebusan; hampir tiga perempat dari responden melakukan suatu jenis pembayaran sebagai tebusan.

"Saat dibandingkan antarindustri, perusahaan dari sektor manufaktur lebih sering diincar dan lebih berkemungkinan membayar tebusan," katanya.

Seperempat dari serangan terhadap perusahaan manufaktur pada khususnya menerima tebusan senilai USD1 juta atau lebih tinggi. Walau hampir semua perusahaan 88 persenmenyatakan bahwa mereka sudah memiliki asuransi siber, hampir 40 persen tidak menerima kompensasi sesuai yang diharapkan, dan dalam beberapa kasus tidak menerimanya sama sekali karena dikecualikan dari pihak pemberi asuransi.

Rekomendasi