Para ilmuwan beriskeras ingin membuat komputer dari bahan yang sama untuk menggerakkan otak manusia. Dilaporkan Independent, Kamis (2/3), sejauh ini pengembang komputer telah lama berupaya meniru kinerja otak manusia, terutama dengan kecerdasan buatan.
Namun teknik-teknik tersebut tidak pernah mampu menandingi berbagai pencapaian yang telah dicapai manusia dengan menggunakan otak organiknya sendiri.
Para ilmuwan sekarang berharap bahwa dengan membuat biokomputer, yang terbuat dari kumpulan sel otak tiga dimensi, dapat membantu mereka lebih dekat dengan impian tersebut. Mereka akan bekerja seperti perangkat keras biologis yang memungkinkan perkembangan pesat seperti komputer baru.
Para peneliti telah melatih komputer berbasis otak itu untuk memainkan video game Pong. Mereka pun berharap untuk bisa meningkatkan dan mereplikasinya sehingga dapat menghasilkan semacam kemampuan baru yang mirip dengan kecerdasan buatan.
"Kami menyebut bidang interdisipliner baru ini sebagai 'kecerdasan organoid' (OI)," kata Thomas Hartung, ilmuwan komputer dari Universitas Johns Hopkins.
"Komunitas ilmuwan top telah berkumpul untuk mengembangkan teknologi ini, yang kami yakini akan meluncurkan era baru biokomputer yang cepat, kuat, dan efisien," tambahnya.
Sejumlah peneliti telah mengusulkan pekerjaan baru yang akan melihat organoid otak manusia dan mengadopsinya untuk menyalakan komputer. Para peneliti berharap biokomputer semacam itu dapat belajar lebih cepat daripada komputer berbasis silikon. Komputer organik juga akan lebih efisien serta mampu menyimpan lebih banyak detail data.
"Otak juga memiliki kapasitas luar biasa untuk menyimpan informasi, diperkirakan mencapai 2.500TB. Tetapi otak terhubung dengan sangat berbeda. Ini memiliki sekitar 100 miliar neuron yang terhubung melalui lebih dari 1015 titik koneksi. Ini adalah perbedaan kekuatan yang sangat besar dibandingkan dengan teknologi kami saat ini," kata Hartung.
Walau begitu, Hartung tak menutup kemungkinan akan menghadirkan tantangan etis. Pasalnya jika berhasil, otak komputer ini akan mampu belajar, mengingat, dan bahkan mungkin memahami dengan cara yang sama seperti yang dilakukan manusia.
"Bagian penting dari visi kami adalah mengembangkan OI dengan cara yang etis dan bertanggung jawab secara sosial. Untuk alasan ini, kami telah bermitra dengan ahli etika sejak awal untuk membangun pendekatan 'etika tertanam'. Semua masalah etika akan terus dinilai oleh tim yang terdiri dari ilmuwan, ahli etika, dan publik, seiring dengan perkembangan penelitian," ujar Hartung.